abu batu

Pengujian Sederhana Kadar Lumpur Pasir

Pengendalian mutu pemeriksaan mutu pengujian kadar lumpur pasir

Di dalam pembangunan infrastruktur maupun gedung dibutuhkan material berkualitas, salah satunya dalam bentuk agregat halus atau dikenal sebagai pasir?abu batu (hasil pecahan batu split). Salah satu hal yang kita perlukan ketika akan menjual atau menentukan tempat dalam mengambil material galian C yang baik, diperlukan metode quality control atau pemeriksaan mutu terhadap material yang akan digunakan, seperti yang akan kita bahas untuk kali ini yaitu mengenai cara menentukan pasir bangunan yang baik dengan menggunakan pengujian kadar lumpur pasir.

Contohnya jika ingin membangun usaha beton ready mix dan terdapat beberapa pemasok material pasir dari berbagai lokasi yang akan menjual pasir kepada kita. Kita harus mengetahui kualitas dari pasir tersebut melalui pengujian kadar lumpur pasir ini.

Kualitas pasir merupakan salah satu faktor untuk menentukan kualitas campuran beton. Pasir adalah endapan butiran-butiran mineral yang lolos ayakan 4.8 mm dan tertinggal di atas ayakan 0.075 mm. Di dalam pasir juga masih terdapat kandungan-kandungan mineral yang lain seperti tanah dan silt. Pasir yang digunakan untuk bahan bangunan harus memenuhi syarat yang telah ditentukan di dalam PUBI. Pasir yang dapat digunakan sebagai bahan bangunan, jika kandungan lumpur di dalamnya tidak lebih dari 5%. Dengan cara ekivalen endapan lumpur dalam pasir yang dinyatakan dalam (%) dapat diketahui secara tepat.

Peralatan yang digunakan untuk pengujian untu melihat kadar lumpur pasir :
1. Gelas ukur 1000 ml
gelas ukur laboratorium untuk pengujian kadar lumpur air pasir
2. Timbangan digital

Cara menimbang pasir untuk pengujian kadar lumpur pada pasir

Bahan yang digunakan untuk pengujian kadar lumpur pasir :
1. Pasir lolos ayakan 0,063 mm sebanyak 230 ml
2. NaOH (Natrium Hidroksida), bisa dibeli di toko bahan kimia
3. Air mineral

Berikut ini cara pengujian sederhana untuk melihat kadar lumpur pasir antara lain:
1. Masukkan pasir sebanyak 230 ml ke dalam gelas ukur
2. Lalu masukkan lagi air sebanyak 70 ml kedalam gelas ukurnya
3. Dan baru dimasukkan NaOH (Natrium Hidroksida) sebanyak 30 ml ke dalam gelas ukur tersebut.
4. Lalu tutup gelas ukur tersebut dan dikocok-kocok hingga NaOH (Natrium Hidroksida) tersebut larut di dalam air
5. Diamkan hingga 1 jam untuk melihat hasilnya
6. Jika kita menguji sampel pasir lebih dari satu, lakukan dengan cara sama seperti langkah 1-7
7. Cara menentukan yang pasir yang berkualitas baik adalah
cara pengujian pemeriksaan mutu kadar lumpur pasir pasir bagus dan tidak bagus baik dan tidak baik

 


– Warna air yang naik ke permukaan tidak berwarna coklat lumpur
– Pasir yang paling baik di antara beberapa sampel tersebut adalah yang warna airnya paling bening

Jika didapat volume endapan lumpur 20 cc maka kandungan lumpur yaitu 20 / 10 = 2%

Angka 10 diatas artinya 10 cc endapan lumpur ekivalen (~) dengan 1 % lumpur. Berdasarkan PUBI 1982 Pasal 11 bahwa kandungan lumpur dalam pasir yang lewat ayakan 0,063 mm tidak lebih dari 5 % (Kadar Lumpur).

Dengan melakukan tes kadar lumpur secara sederhana, dapat diketahui pasir yang layak atau tidak layak untuk bahan campuran beton. Apabila ternyata hasilnya masih lebih dari ambang batas, maka dapat dilakukan modifikasi dengan mengurangi persentase kadar lumpur lewat pencucian pasir ataupun metoda lainnya

 

sumber, sumber2, sumber3

Iklan

Klasifikasi Agregat

Agregat adalah sekumpulan butir- butir batu pecah, kerikil, pasir, atau mineral lainnya baik berupa hasil alam maupun buatan (SNI No: 1737-1989-F). Agregat adalah material granular, misalnya pasir, kerikil, batu pecah yang dipakai bersama-sama dengan suatu media pengikat untuk membentuk suatu beton semen hidraulik atau adukan.

Image

Menurut Silvia Sukirman, (2003), agregat merupakan butir‐butir batu pecah split, kerikil, pasir atau mineral lain, baik yang berasal dari alam maupun buatan yang berbentuk mineral ppadat beruppa ukuran besar mauppun kecil atau fragmen‐fragmen.

Agregat merupakan komponen utama dari struktur perkerasan jalan, yaitu 90% – 95% agregat berdasarkan persentase berat, atau 75 –85% agregat berdasarkan persentase volume. Dengan demikian kualitas perkerasan jalan ditentukan juga dari sifat agregat dan hasil campuran agregat dengan material lain.

Sifat Agregat

Sifat agregat merupakan salah satu faktor penentu kemampuan perkerasan jalan memikul beban lalu lintas dan daya tahan terhadap cuaca. Yang menentukan kualitas agregat sebagai material perkerasan jalan adalah:

• gradasi
• kebersihan
• kekerasan
• ketahanan agregat
• bentuk butir
• tekstur permukaan
• porositas
• kemampuan untuk menyerap air
• berat jenis, da
• daya kelekatan terhadap aspal.

Sifat agregat tersebut sangat dipengaruhi oleh jenis batuannya.

Karakteristik bagian luar agregat, terutama bentuk partikel dan tekstur permukaan memegang peranan penting terhadap sifat beton segar dan yang sudah mengeras. Menurut BS 812 : Part 1: 1975, bentuk partikel agregat dapat dibedakan atas:

• Rounded 
• Irregular
• Flaky 
• Angular
• Elonggated 
• Flakyy & Elonggated

Klasifikasi Agregat

• Agregat Ringan adalah agregat yang dalam keadaan kering dan gembur mempunyai berat 1100 kg/m3 atau kurang. 
• Agregat Halus adalah pasir alam sebagai hasil desintegrasi _alami_ bantuan atau pasir yang dihasilkan oleh inustri pemecah batu dan mempunyai ukuran butir terbesar 5,0 mm. 
 Agregat Kasar adalah kerikil sebagai hasil desintegrasi alami dari bantuan atau berupabatu pecah yang diperoleh dari industri pemecah batu dan mempunyai ukuran butir ntara 5-40 mm. Agregat Kasar, adalah agregat dengan ukuran butiran butiran lebih lebih besar besar dari dari saringan saringan No.88 (2,36 mm)
• Bahan Pengisi (abu / filler), adalah bagian dari agregat halus yang minimum 75% lolos saringan no. 30 (0,06 mm)

Image
Jenis Agregat berdasarkan proses pengolahannya
• Agregat Alam. Agregat yang dapat dipergunakan sebagaimana bentuknya di alam atau dengan sedikit proses pengolahan. Agregat ini terbentuk melalui proses erosi dan degradasi. Bentuk partikel dari agregat alam ditentukan proses pembentukannya.
• Agregat melalui proses pengolahan. Digunung‐gunung atau dibukit‐bukit, dan sungai‐sungai sering ditemui agregat yang masih berbentuk batu gunung, dan ukuran yang besar‐besar sehingga diperlukan proses pengolahan terlebih dahulu sebelum dapat digunakan sebagai agregat konstruksi jalan.
• Agregat Buatan.  Agregat yang yang merupakan merupakan mineral filler/pengisi (partikel dengan ukuran < 0,075 mm), diperoleh dari hasil sampingan pabrik‐pabrik semen atau mesin pemecah batu.

Klasfikasi agregat berdasarkan besar partikelnya :

1. Agregat kasar, lebih besar dari 4,75mm (ASTM) dan atau lebih besar dari 2mm (AASHTO)

2. Agregat halus, kurang dari 4,75 mm (ASTM) dan atau 0,075 sampai 2 mm (AASHTO)

sumber

Abu Batu Pecah Untuk Pembuatan Paving Block

 

Yang menjadi perhatian utama dalam
menentukan kualitas  adalah
kuat tekannya. Hal ini tidak mengherankan
karena paving block merupakan bahan
perkerasan sehingga kuat tekan paving block
dituntut minimal dapat memenuhi kekuatan
untuk mendukung beban di atasnya.

Kuat tekan paving block dalam industri
merupakan masalah yang sangat ironis, sebab
paving block yang rendah kuat tekannya akan
tidak disukai konsumen karena tidak awet atau
tidak memenuhi standar kualitas paving block.
Akan tetapi, jika kuat tekan dinaikkan dengan
cara menambah jumlah semen dalam campuran,
maka konsekuensinya harga paving block
menjadi mahal karena biaya produksinya akan
meningkat.

Abu batu saat ini merupakan bahan hasil
sampingan dalam industri pemecahan batu yang
jumlahnya tidak sedikit. Saat ini abu batu tidak
begitu laku untuk dijual karena pemakaian dalam
industri konstruksi sudah sangat sedikit
mengingat konstruksi perkerasan jalan dengan
Lapen sudah banyak beralih ke lapisan aspal
beton. Perkerasan Lapen yang biasanya
penaburan lapis atas dengan abu batu sudah
banyak diganti dengan pasir, sehingga abu batu
pada stone crusher menjadi bahan limbah yang
harus diupayakan penanganannya.
Untuk menekan biaya produksi paving block
sekaligus menangani masalah limbah abu batu
pada industri stone crusher. Dalam penelitian ini
dilakukan pengkajian pemakaian abu batu untuk
paving block.

Hasil penelitian menunjukkan perbandingan
campuran yang masih layak dipakai dengan
dasar kuat tekan adalah sebagai berikut. Abu
batu sampai 1PC : 8 masih dapat dipakai
karena masih memiliki kuat sama dengan paving
block yang beredar di Semarang. Perbandingan
yang baik disarankan memakai komposisi 1PC :
6 abu dengan kekuatan tekan 200 Kg / Cm2.
Model regresi diekspresikan dalam persamaan
Y = -43,219 X + 470,002

 

sumber

Macam macam Batu Split dan Kegunaannya

Bolder Elephant Stone ( Batu Gajah)
Material jenis ini banyak digunakan untuk penimbunan daerah-daerah rawa atau bibir pantai, penahan ombak, reklmasi pantai dan pembuatan dermaga sederhana dan untuk batu pondasi dsb.

Base Course ( Lapisan Kedua)
Material jenis ini digunakan untuk lapisan kedua / ketiga dari suatu areal yang akan ditimbun, dimana tanah dasarnya sudah cukup stabil.

Split Stone / Batu Pecah ( 30-50mm)
Material ini biasanya digunakan untuk dasar badan jalan sebelum menggunakan material yang lain, penyangga bantalan kereta api, penutup/ pemberat pipa didasar laut, dsb.

Split Stone / Batu Pecah ( 20-30 mm)
Material ini banyak digunakan untuk pengecoran lantai kerja, pengecoran / pembetonan horizontal.

Split Stone / Batu Pecah ( 10-20mm)
Material jenis ini banyak digunakan untuk pengecoran segala macam konstruksi mulai dari yang ringan sampai konstruksi berat. Spt: Jalan Tol, Gedung bertingkat, Landasan Pesawat Udara, Bantalan Kereta Api, Pelabuhan dan Dermaga, Tiang Pancang dan Jembatan, dsb

Screening ( 5 -10 mm)
Material jenis ini banyak digunakan untuk campuran dalam proses pengaspalan jalan, mulai dari jalan yang ringan sampai jalan berkelas-1 ( Aspal Mixed Plant)

Abu Batu ( 0-5 mm)
Material jenis ini banyak dibutuhkan untuk campuran dalam proses pengaspalan dan bisa digunakan sebagai pengganti pasir. Material ini adalah bahan utama dari pembuatan gorong-gorong dan Batako Press.

Agregat A, B
Batu pecah jenis adalah campuran batu split, abu batu dan pasir, yang dicampur berdasarkan permintaan / kebutuhan proyek dan tergantung kebutuhannya.Sand (Pasir Sungai)Material jenis ini digunakan untuk bahan dasar pembuatan dinding / bangunan beton dan bahan baku cor untuk semua jenis bangunan.