Teknik Sipil

JENIS – JENIS KERUSAKAN PADA LAPIS PONDASI ATAS DAN BAWAH

JENIS – JENIS KERUSAKAN PADA LAPIS PONDASI ATAS DAN BAWAH

 

  1. Aspal Amblas

Aspal amblas ambles adalah  penurunan  perkerasan  yang  terjadi  pada  area  terbatas  yang mungkin  dapat  diikuti  dengan  retakan.  Penurunan  ditandai  dengan
adanya genangan air pada permukaan perkerasan yang membahayakan lalu lintas
yang lewat. Faktor penyebab kerusakan :

  1. Beban lalu lintas berlebihan
  2. Penurunan  sebagian  dari  perkerasan  akibat  lapisan  dibawah  perkerasan
    mengalami penurunan.
  3. Konsolidasi atau Gerakan Tanah Pondasi.
    Penurunan  konsolidasi  tanah  di  bawah  timbunan  menyebabkan  distori  perkerasan. Perkerasan  lentur  yang  dibangun  diatas  kotoran  atau  tanah  gambut,  akan memunculkan  area  yang  ambles

Cara untuk menangani kerusakan ambles dengan cara mengisi bagian jalan yang amblas dengan agregat, kemudian dengan pemadatan dengan campuran aspal. Untuk amblas < 5 cm, bagian yang rendah diisi dengan bahan sesuai seperti lapen, lataston, laston. Untuk amblas yang > 5 cm, bagian yang amblas dibongkar dan dilapisi kembali dengan lapis yang sesuai.

1 amblas

Jalan Aspal Amblas

Jalan amblas ini pernah penulis temukan pada tahun 2012-2013 di kota Samarinda, tepatnya di depan kantor Gubernur Kalimantan Timur

  1. Aspal Mengembang (Swell)

Aspal mengembang adalah naiknya tanah dasar akibat pengembangan yang menghasilkan retak parah di permukaan perkerasan.
•  Faktor penyebab kerusakan
1).  Mengembangnya material lapisan di bawah perkerasan atau tanah dasar.
2). Tanah dasar perkerasan mengembang, bila kadar air naik. Umumnya, hal ini
terjadi bila tanah pondasi berupa lempung yang mudah mengembang oleh
kenaikan kadar air.
•  Cara perbaikan
1). Menambal di seluruh kedalaman.
2). Pembongkaran  total  area  yang  rusak  dan  menggantikannya  dengan
material baru.
3). Perataan permukaan dengan cara menimbunnya dengan material baru.
4). Sembarang  cara,  untuk  perbaikan  permanen,  pada  prinsipnya  harus
ditunjukan untuk menstabilkan kadar air dalam struktur perkerasan.

1 mengembang

Jalan aspal mengembang

  1. Alur (rutting)
    Alur aspal adalah  deformasi  permukaan  perkerasan  aspal  dalam  bentuk  turunnya perkerasan ke arah memanjang pada lintasan roda kendaraan..
    Faktor penyebab kerusakan
    1). Pemadatan  lapis  permukaan  dan  pondasi  (base)  kurang,  sehingga  akibat
    beban lalu lintas lapis pondasi memadat lagi.
    2). Kualitas campuran aspal rendah, ditandai dengan gerakan arah lateral dan
    ke bawah dari campuran aspal di bawah beban roda berat.
    3). Gerakan  lateral  dari  satu  atau  lebih  dari  komponen  pembentuk  lapis
    perkerasan yang kurang padat. Contonya terjadinya alur pada lintasan roda
    yang  disebabkan  oleh  deformasi  dalam  lapis  pondasi  atau  tanah  da
    4). Tanah dasar lemah atau agregat pondasi kurang tebal, pemadatan kurang,
    atau terjadi pelemahan akibat infiltrasi air tanah.
  • Cara perbaikan.
    1). Jika  penyebabnya  adalah  lemahnya  lapis  pondasi  atau  tanah  dasar,
    pembangunan  kembali  perkerasan  secara  total  mungkin  diperlukan,
    termasuk juga penambahan drainase, terutama jika air menjadi salah satu
1 rutting

Jalan Aspal Rutting Beralur

  1. Bergelombang

Perbaikan yang paling baik dilakukan pada aspal bergelombang adalah dengan menambal di seluruh kedalaman. Jika perkerasan mempunyai agregat fondasi (base) dengan lapisan tipis perawatan permukaan maka permukaan dikasarkan kemudian dicampur dengan material fondasi, dan dipadatkan lagi sebelum meletakkan lapisan.

  • Faktor penyebab kerusakan
    1). Aksi  lalu  lintas  yang  disertai  dengan  permukaan  perkerasan  atau  lapis
    pondasi  yang  tidak  stabil.  Permukaan  perkerasan  yang  tidak  stabil  ini
    disebabkan  karena  campuran  lapisan  aspal  yang  buruk,  misalnya  akibat
    terlalu  tingginya  kadar  aspal,  terlalu  banyaknya  agregat  halus,  agregat
    berbentuk bulat dan licin, atau terlalu lunaknya campuran semen.
    2). Kadar  air  dalam  lapis  pondasi  granuler  (granular  base)  terlalu  tinggi
    sehingga tidak stabil
1 bergelombang

Jalan Aspal Bergelombang

 

Nah, pasti bapak / ibu pemilik proyek pemenang tender tidak mau khan jalan aspal yang Anda buat menjadi retak bermasalah dan malah membebani biaya perawatan / maintenance cost proyek Anda di kemudian hari? Kami percaya keputusan terbaik ada di tangan bapak/ibu untuk memilih dan mempercayakan kebutuhan material batu split/agregat/base coarse nya.

Untuk informasi batu split Merak / Bojonegara dengan kualitas TERBAIK dan TERPERCAYA, bisa menghubungi kami di 081-383-223-288 atau email ke sales@jualbatusplit.com.
Untuk masalah harga, tenang saja pak / bu, HARGA batu split kami menyesuaikan dengan bujet proyek Anda kok.
Langsung saja hubungi kami ya untuk jual beli batu split..
Terima kasih atas perhatian bapak dan ibu..

Jenis Retak Jalan Berdasarkan Cara Berkembang Retak

Masih menyambung artikel sebelumnya, tentang kerusakan aspal.

Berdasarkan cara berkembangnya, NDLI (1995) membagi dibagi menjadi dua bagian, yaitu:

1. Retak dari atas ke bawah (top-down cracking)

Top-down cracks (TDC) adalah retak memanjang dan/ atau melintang yang dimulai pada permukaan perkerasan aspal dan berkembang ke bawah. Menurut Kuennen (2009), retak ini biasanya terjadi akibat segregasi campuran aspal cair dengan batu split dan sifat viscoelastic aspal sebagai pengikat yang rentan terhadap perubahan suhu yang ekstrim.

jualbatusplit top down cracking

2.Retak dari bawah ke atas (bottom-up cracking)

Kuennen (2009) menyebutkan bahwa bottom-up cracking atau fatigue cracking adalah hasil dari perkembangan tegangan pada lapis pondasi perkerasan aspal yang menyebabkan lapis pondasi retak dan merambat ke atas. Retak ini diakibatkan repetisi beban lalu lintas dan bisa berupa kumpulan retak kecil yang saling berhubungan.

 jualbatusplit bottom up cracking

sumber gambar 1, gambar 2

Untuk kebutuhan batu split yang berkualitas, hubungi kami di 087773399966

Retak Jalan Berdasarkan Penyebab

Retak Jalan Berdasarkan Penyebab 

Menurut Mamlouk (2006) berdasarkan penyebab terjadinya kerusakan retak, retak dibagi menjadi 3 bagian:

  1. Retak struktural (structural cracking)

Retak struktural yang disebut juga sebagai retak lelah (fatigue cracking) adalah serangkaian retak memanjang dan saling berhubungan pada permukaan jalan yang disebabkan oleh pembebanan yang berulang dari roda kendaraan, terutama kendaraan berat dengan muatan berlebih. Jenis retak ini umumnya dimulai sebagai retak longitudinal pendek di jalan dan berkembang menjadi retak berpola kulit buaya (retak saling berhubungan). Jenis retak ini terjadi karena aksi lentur yang berulang pada perkerasan saat beban diberikan. Hal ini menghasilkan tegangan tarik yang akhirnya membuat retak pada bagian bawah lapisan aspal. Retak secara bertahap merambat ke bagian atas lapisan dan kemudian berkembang dan saling berhubungan. Jenis kerusakan ini akhirnya akan menyebabkan hilangnya integritas struktural dari sistem perkerasan.

Retak Struktural Fatigue Cracking

Gambar Retak Struktural (Fatigue Cracking)

  1. Retak melintang akibat suhu ( transverse thermal cracking)

Retak ini terjadi karena perubahan suhu pada material perkerasan jalan. Karena material ini digerus berulang akibat gaya gesekan dengan material lain, tegangan tarik berkembang dalam material perkerasan. Jika tegangan tarik melebihi kekuatan tegangan tarik material, maka retak thermal akan berkembang seperti Gambar 1.10. Retak thermal biasanya terjadi dalam arah melintang dan tegak lurus dari arah arus lalu lintas. Jenis retak ini biasanya memiliki jarak yang sama. Retak ini adalah jenis retak yang tidak berhubungan dengan beban lalu lintas dan retak ini dimulai saat musim dingin. Lebar retak thermal biasanya mengalami perubahan dari musim panas.

Retak Thermal (Transverse Thermal Cracking)

Gambar Retak Thermal (Transverse Thermal Cracking)

  1. Retak refleksi (reflection cracking)

Retak refleksi merupakan retak di bawah lapisan yang bisa terjadi overlay. Retak refleksi sering terjadi di aspal overlay pada perkerasan beton dan cement treated basis. Mereka juga terjadi ketika retak pada lapisan aspal yang lama tidak benar diperbaiki sebelum dioverlay. Retak refleksi memiliki beberapa bentuk tergantung pada pola retak di lapisan bawahnya.

Jenis Retak Jalan Bag.2

b. Retak pertemuan perkerasan bahu (edge joint cracks)

Sesuai dengan namanya retak ini umumnya terjadi pada daerah sambungan perkerasan dengan bahu yang beraspal. Retak ini berbentuk retak memanjang (longitudinal cracks) dan biasanya terbentuknya pada permukaan bahu beraspal. Retak ini dapat terdiri atas beberapa celah yang saling sejajar.

Kemungkinan penyebab:

  1. Perbedaan ketinggian antara bahu beraspal dengan perkerasan, akibat penurunan bahu.
  2. Penyusutan material bahu/ badan perkerasan jalan.
  3. Drainase kurang baik.
  4. Roda kendaraan berat yang menginjak bahu beraspal.
  5. Material pada bahu yang kurang baik/ kurang memadai.

Akibat lanjutan:

  1. Menimbulkan kerusakan menyeluruh atau setempat pada perkerasan jalan akibat meresapnya air pada badan jalan dan mengganggu kenyamanan berkendaraan.
  2. Berkembang menjadi besar yang diikuti oleh pelepasan butir pada tepi retak.

Hal yang perlu dilakukan dalam pemeliharaan :

1.Retak dapat ditutup dengan larutan pengisi, retak yang besar diisi dengan larutan emulsi aspal yang diikuti dengan penanganan permukaan atau larutan pengisi .

2.Pengkasaran dengan pemanas dan lapis tambahan(overlay).

c. Retak sambungan jalan (lane joint cracks)

Sesuai dengan namanya retak ini terjadi pada sambungan dua jalur lalu lintas dan berbentuk retak memanjang (longitudinal cracks). Retak ini dapat terdiri atas beberapa celah yang saling sejajar.

Kemungkinan penyebab:

  1. Ikatan sambungan kedua jalur yang kurang baik.

Akibat lanjutan:

  1. Kerusakan menyeluruh atau setempat pada perkerasan jalan dan akan mengganggu kenyamanan berkendaraan.
  2. Lepasnya butir pada tepi retak dan bertambah lebar.
Retak Sambungan Jalan (Lane Joint Cracks)

Retak Sambungan Jalan (Lane Joint Cracks)

Hal yang perlu dilakukan dalam pemeliharaan :

1.Perbaikan dapat dilakukan dengan memasukan campuran aspal cair dan pasir kedalam celah yang terjadi .

d. Retak sambungan pelebaran (widening cracks)

Bentuk retak ini adalah retak memanjang (longitudinal cracks) yang akan terjadi pada sambungan antara perkerasan lama dengan perkerasan pelebaran. Retak ini dapat terdiri atas beberapa celah yang saling sejajar dan akan meresapkan air pada lapisan perkerasan.

Kemungkinan penyebab:

  1. Ikatan sambungan yang kurang baik.
  2. Perbedaan kekuatan/ daya dukung perkerasan pada jalan pelebaran dengan jalan lama.

Akibat lanjutan:

  1. Ikatan sambungan kedua jalur yang kurang baik.

Akibat lanjutan:

  1. Kerusakan menyeluruh atau setempat pada perkerasan jalan dan akan mengganggu kenyamanan berkendaraan.
  2. Lepasnya butir pada tepi retak dan bertambah lebar.
Retak Sambungan Pelebaran (Widening Crack)

Retak Sambungan Pelebaran (Widening Crack)

Hal yang perlu dilakukan dalam pemeliharaan :

1.Perbaikan dilakukan dengan mengisi celah-celah yang timbul dengan campuran aspal cair dan pasir.

 

 

Jenis Retak Jalan bag.1

A.Lapis Permukaan Atas

1.Retak

Retak adalah suatu gejala kerusakan/ pecahnya permukaan perkerasan sehingga akan menyebabkan air pada permukaan perkerasan masuk ke lapisan dibawahnya dan hal ini merupakan salah satu faktor yang akan membuat luas/ parah suatu kerusakan (Departemen Pekerjaan Umum, 2007).

Di dalam pendekatan mekanika retak diasumsikan ada bagian yang lemah pada setiap material. Ketika pembebanan terjadi, ada konsentrasi tegangan yang lebih tinggi di sekitar bagian tersebut, sehingga material tersebut tidak lagi memiliki distribusi tegangan yang seragam dan terjadilah kerusakan/ retak pada bagian tersebut dan berkembang ke bagian yang lainnya. Mekanika retak juga menggambarkan perkembangan retak tergantung pada sifat material tersebut (Roque, 2010).

  1. Jenis – jenis retak

Pengelompokan jenis-jenis kerusakan yang terjadi pada retak bermacam-macam, seperti jenis retak berdasarkan bentuk retak, penyebab terjadinya kerusakan retak, tingkat keparahan retak, dan cara berkembangnya.

  1. Berdasarkan bentuk retak

Departemen Pekerjaan Umum (2007) mengelompokkan jenis kerusakan retak berdasarkan bentuknya menjadi:

1). Meander (meandering)

Yaitu retak yang terjadi berbentuk seperti sungai yang berkelok-kelok (meander). Jenis retak yang termasuk dalam kerusakan ini adalah: retak halus (hair cracks).

a).Retak halus (hair cracks)

Yang dimaksud retak halus adalah retak yang terjadi mempunyai lebar celah≤ 3 mm. Sifat penyebarannya dapat setempat atau luas pada permukaan jalan.

Kemungkinan penyebab:

  1. Bahan perkerasan/ kualitas material kurang baik.
  2. Pelapukan permukaan.
  3. Air tanah pada badan perkerasan jalan.
  4. Tanah dasar/ lapisan dibawah permukaan kurang stabil.

Akibat lanjutan:

  1. Meresapnya air pada badan jalan sehingga mempercepat kerusakan dan menimbulkan ketidak-nyamanan berkendaraan.
  2. Berkembang menjadi retak buaya (alligator cracks).
retak jalan halus (hair crack)

retak jalan halus (hair crack)

Hal yang perlu dilakukan untuk pemeliharaan :

  1. 1. Ditambal atau di tutuo sesuai dengan ukuran dan tingkat kerusakannya.
  2. Garis (line)

Yaitu retak yang terjadi berbentuk garis dan dapat berupa memanjang (longitudinal), melintang (transverse), dan diagonal. Jenis kerusakan retak yang termasuk dalam kerusakan ini adalah: retak tepi (edge cracks), retak pertemuan perkerasan dan bahu (edge joint cracks), retak sambungan jalan (lane joint cracks), dan retak sambungan pelebaran (widening cracks).

a.Retak tepi (edge cracks)

Retak ini disebut juga dengan retak garis (lane cracks) dimana terjadi pada sisi tepi perkerasan/ dekat bahu dan berbentuk retak memanjang (longitudinal cracks) dengan atau tanpa cabang yang mengarah ke bahu. Retak ini dapat terdiri atas beberapa celah yang saling sejajar.

Kemungkinan penyebab:

  1. Bahan dibawah retak pinggir kurang baik atau perubahan volume akibat jenis ekspansif clay pada tanah dasar .
  2. Sokongan bahu samping kurang baik.
  3. Drainase kurang baik.
  4. Akar tanaman yang tumbuh di tepi perkerasan dapat pula menjadi sebab terjadinya retak tepi.

Akibat lanjutan:

  1. Kerusakan menyeluruh atau setempat pada perkerasan jalan sehingga mengganggu kenyamanan berkendaraan.
  2. Retak akan berkembang menjadi besar yang diikuti oleh pelepasan butir pada tepi retak.
retak tepi (edge cracks)

retak tepi (edge cracks)

Hal yang perlu dilakukan dalam pemeliharaan :

1.Perbaikan bergantung pada tingkat kerusakannya, jika bahu jalan tidak mendukung pinggir perkerasan maka material yang buruk di bongkar dan di gantikan dengan material baik yang dipadatkan .

2.Jika air menjadi faktor penyabab kerusakan pecah ,maka harus dibuatkan drainase.

3.Penambahan parsial .

sumber

Perkerasan Jalan Aspal Di Indonesia

Pembangunan suatu negara membutuhkan suatu dukungan infrastruktur yang tepat dan memadahi. Oleh karena itu pembangunan transportasi jalan raya terus dikembangkan menuju terciptanya jaringan transportasi yang handal, efisien dan mampu mendukung industrialisasi dalam upaya pemerataan pembangunan.

Di Indonesia pada umumnya menggunakan lapisan permukaan konvensional berupa Asphalt Concrete (AC) dan Hot Rolled Sheet (HRS), tetapi kinerja dari lapisan ini tidak selalu memuaskan dan kerusakan dini sering terjadi. Kerusakan tersebut terlihat berupa gelombang (corrugation), alur (rutting) dan retak-retak (cracks) pada permukaan perkerasan. Iklim tropis di Indonesia dengan pergantian cuaca panas dan hujan berganti-ganti serta peningkatan volume lalu-lintas yang tinggi, memberi sumbangan kerusakan yang sangat cepat pada perkerasan jalan di Indonesia. Oleh karena itu diperlukan campuran perkerasan yang bersifat fleksibel dengan stabilitas dan durabilitas tinggi, tidak peka terhadap cuaca panas, tahan oksidasi, tahan terhadap rembesan air hujan, dan aman bagi lingkungan.

Campuran aspal dengan kadar aspal relatif tinggi dibutuhkan untuk memenuhi sifat-sifat di atas agar rongga yang terisi aspal (VFWA) besar sehingga lebih tahan terhadap oksida. Salah satu jenis lapis perkerasan jalan yang menunjang pembangunan diatas yaitu Split Mastic Asphalt (SMA). SMA tersusun atas Split (agregat kasar dengan kadar tinggi, ± 75 %), Mastic Asphalt (campuran agregat halus, filler dan aspal dengan kadar relative tinggi) ditambah dengan zat additive serat selulosa. Agregat dari SMA mempunyai gradasi terbuka, sehingga dapat memiliki ketebalan lapisan film aspal yang tinggi, hal ini menimbulkan pengaruh positif dan negatif. Pengaruh positifnya adalah karena lapisan dengan ketebalan film aspal yang tinggi akan tahan terhadap sinar ultraviolet dan oksidasi, sehingga akan meningkatkan daya tahan dari lapisan perkerasan jalan, sedangkan pengaruh 2 negatifnya adalah bahwa lapisan aspal ini kurang tahan terhadap temperature tinggi, karena pada kondisi lapisan film aspal yang tinggi ini cenderung terjadi bleeding atau keluarnya aspal ke permukaan, akan tetapi pengaruh negative seperti hal tersebut dapat dikurangi dengan penambahan zat additive berupa serat selulosa yang dapat berfungsi untuk menstabilkan aspal dan meningkatkan viskositasnya.

jalan aspal terkelupas

Perkerasan jalan rusak secara gradual yang diakibatkan oleh beban berulang kendaraan, jenis kerusakan utama pada perkerasan jalan adalah retak (cracking), dan deformasi permanen (rutting). Mekanisme retak yang terjadi pada perkerasan jalan disebabkan adanya gaya tarik di bagian bawah lapisan perkerasan akibat beban roda kendaraan. Beban tarik ini sering menyebabkan adanya retak, terutama diawali dengan adanya retak awal pada bagian bawah lapisan perkerasan yang kemudian akan menjalar kepermukaan. Untuk mendapatkan kekuatan tarik material campuran aspal tidak dapat dilakukan pengujian secara langsung dengan Marshall, sehingga metode yang paling sesuai untuk mengetahui gaya tarik campuran aspal adalah dengan menggunakan metode Indirect Tensile Strength.

sumber, foto

Tanah Merah Laterit

Tanah Laterit atau sering disebut juga dengan tanah merah merupakan tanah yang berwarna merah hingga coklat yang terbentuk pada ligkungan yang lembab, dingin, dan mugkin genangan-genangan air, Secara spesifik tanah merah memiliki profil tanah yang dalam,mudah menyerap air memiliki kandungan bahan organik yang sedang dan pH netral hingga asam dan banyak mengandung zat besi dan aluminium sehingga baik digunakan pondasi bangunan karena mudah menyerap air. Tekstur tanah merah relative padat dan kokoh untuk menopang bangunan diatasnya dan sering di gunakan untuk lahan perkebunan palawija, jagung, kelapa sawit, karet, cengkih, cokelat, kopi,) Jenis tanah ini terdapat mulai dari tepi pantai yang landau sampai dengan pegunungan yang tinggi dengan iklim agak kering sampai basah Persebaran mayoritas meliputi sebagian besar lahan yang ada di Indonesia.

Perancis membuat jalan di daerah Kamboja , Thailand dan Viet Nam dengan laterit hancur , batu atau kerikil ; di Kenya selama pertengahan 1970-an , dan Malawi selama pertengahan 1980-an. Dibangun bagian percobaan bituminous – muncul rendah jalan volume dengan menggunakan laterit di tempat batu sebagai pondasi base course . Laterit tidak masuk dengan spesifikasi yang berlaku tetapi mempunyai kemampuan sama baiknya bila dibandingkan dengan bagian sebelah jalan yang menggunakan batu atau base coarse sebagai basis.

Tanah merah lateritScreenshot_2015-07-22-12-44-56 Laterit

sumber

Pemilihan Material Base Course Untuk Proyek

compaction requirements

Pemilihan tipe Base Course tergantung pada material dan peralatan yang ada, termasuk juga kondisi cuaca selama pengerjaan konstruksi. Penelitian mendalam diperlukan untuk menentukan material yang cocok sesuai karakteristik lokasi. Material base course alami lebih sedikit terpengaruh cuaca dan membutuhkan sedikit kontrol teknis. Material alami tanpa proses lebih lanjut, mudah dan cepat dalam pengerjaan serta lebih diutamakan untuk aspal atau stabilisasi dengan semen.

basecourse, subbasecourse

 

Subgrade / sub base course dapat distabilkan secara mekanis (dengan penambahan material berbentuk granul kasar), secara kimiawi (dengan menambahkan bahan admixtures), atau dengan bahan stabilisasi (geo sintetis, anyaman, grid pasir). Stabilisasi dengan bahan kimia (kapur, semen portland, abu batu) secara umum lebih mahal tetapi untuk jangka panjang lebih ekonomis dibandingkan kesediaan material kimia atau material mekanis yang ada. Stabilisasi dengan bahan material tertentu bisa menghemat waktu dan biaya, seperti geotextiles, roll matt dengan cara menguatkan lapisan subgrade, menjaga pemisahan lapisan tanah, dan mengontrol drainase.

Ketika mendesain jalan, material yang tersedia dengan harga terjangkau bisa digunakan sebagai pelapis antara subgrade dan base course. Material dengan nilai CBR (California Bearing Ratio) kurang atau sama dengan 20 disebut material terseleksi, sedangkan CBR lebih dari 20 disebut sub base.

CBR rating

 

sumber

Pondasi Tiang Pancang (Pile Cap Foundation)

Tiang pancang saat ini banyak digunakan di Indonesia sebagai pondasi bangunan, seperti jembatan, gedung bertingkat, pabrik atau gedung-gedung industri, menara, dermaga, bangunan mesin-mesin berat,  dll. Dimana semuanya merupakan konstruksi-konstruksi yang memiliki dan menerima beban yang relatif berat. Penggunaan tiang pancang untuk konstruksi biasanya bertitik tolak pada beberapa hal mendasar seperti anggapan adanya beban yang besar sehingga pondasi langsung jelas tidak dapat digunakan, kemudian jenis tanah pada lokasi yang bersangkutan relatif lunak (lembek) sehingga pondasi langsung tidak ekonomis lagi untuk dipergunakan.

Dalam merencanakan pondasi untuk suatu konstruksi dapat digunakan beberapa macam tipe pondasi. Pemilihan tipe pondasi ini didasarkan atas :
  1. Fungsi bangunan atas (upper structure) yang akan dipikul oleh pondasi tersebut.
  2. Besarnya beban dan berat dari bangunan atas.
  3. Kondisi tanah dimana bangunan tersebut akan didirikan.
  4. Biaya pondasi dibandingkan dengan bangunan atas.
Seperti yang kita ketahui bahwa tipe pondasi cukup banyak macamnya, dan tergantung dari fungsi serta kegunaannya. Nah.. salah satu di antara tipe pondasi yang dapat digunakan adalah pondasi tiang pancang. Konstruksi pondasi tersebut bisa terbuat dari kayu, baja, atau beton yang berfungsi untuk meneruskan beban- beban dari struktur bangunan atas ke lapisan tanah pendukung (bearing layers) dibawahnya pada kedalaman tertentu

Mengapa harus Pondasi Tiang Pancang ?

Dikarenakan begitu pentingnya peranan dari pondasi tiang pancang tersebut, maka jika  pembuatannya dibandingkan dengan pembuatan pondasi lain, pondasi tiang pancang ini mempunyai beberapa keuntungan sebagai berikut :
  1. Biaya pembuatannya kemungkinan besar (dengan melihat letak lokasi dan lainnya), lebih murah bila dikonversikan dengan kekuatan yang dapat dihasilkan.
  2. Pelaksanaannya lebih mudah.
  3. Di Indonesia, peralatan yang digunakan tidak sulit untuk didapatkan.
  4. Para pekerja di Indonesia sudah cukup terampil untuk melaksanakan bangunan yang mempergunakan pondasi tiang pancang.
  5. Waktu pelaksanaannya relatif lebih cepat.
Secara umum pemakaian pondasi tiang pancang dipergunakan apabila tanah dasar dibawah bangunan tersebut tidak mempunyai daya dukung (bearing capacity) yang cukup untuk memikul berat bangunan dan beban diatasnya, dan juga bila letak tanah keras yang memiliki daya dukung yang cukup untuk memikul berat dari beban bangunan diatasnya terletak pada posisi yang sangat dalam. Dari alasan itulah maka dalam mendesain Pondasi tiang pancang mutlak diperlukan informasi mengenai :
  1. Data tanah dimana bangunan akan didirikan.
  2.  Daya dukung dari tiang pancang itu sendiri (baik single pile ataupun group pile).
  3. Analisa negative skin friction (karena mengakibatkan beban tambahan).
Gaya geser negatif (negative skin friction) adalah suatu gaya yang bekerja pada sisi tiang pancang dimana gaya tersebut justru bekerja kearah bawah sehingga malah memberikan penambahan beban secara vertikal selain beban luar yang bekerja.Negative skin friction berbeda dengan Positif skin friction, karena positif skin friction justru membantu memberikan gaya dukung pada tiang dalam melawan beban luar/vertikal yang bekerja dengan cara memberikan perlawanan geser disisi-sisi tiang, dengan arah kerja yang berlawanan dari arah gaya luar yang bekerja ataupun gaya dari negative skin friction tersebut.
Negatif skin friction terjadi ketika lapisan tanah yang diperkirakan mengalami penurunan yang cukup besar akibat proses konsolidasi, dimana akibat proses konsolidasi ini, tiang mengalami gaya geser dorong kearah bawah yang bekerja pada sisi sisi tiang (karena terbebani). keadaan ini disebut sebagai keadaan dimana tiang mengalami gaya geser negatif (negative skin friction). Nah….jika jumlah gaya gaya sebagai akibat dari beban luar dan gaya geser negatif ini melebihi gaya dukung tanah yang diizinkan, maka akan terjadilah penurunan tiang yang disertai dengan penurunan tanah disekitarnya.
Keadaan ini bisa terjadi karena tanahnya yang lembek, pemancangan pondasi pada daerah timbunan baru, atau akibat penurunan air tanah pada tanah yang lembek, dimana kondisi tersebut memungkinkan terjadinya penurunan atau konsolidasi tanah yang cukup besar. Pondasi tiang pancang hendaknya direncanakan sedemikian rupa sehingga gaya luar yang bekerja pada kepala tiang tidak melebihi gaya dukung tiang yang diizinkan. Adapun yang dimaksud dengan gaya dukung tiang yang diizinkan adalah meliputi aspek gaya dukung tanah yang diizinkan, tegangan pada bahan tiang perpindahan kepala tiang yang diizinkan, dan gaya- gaya lain (seperti perbedaan tekanan tanah aktif dan pasif).
Perhitungan serta pengevaluasian tersebut tidak saja dilaksanakan terhadap tiang secara individu (single pile) tetapi juga harus dilaksanakan terhadap tiang-tiang dalam kelompok (group pile). Umumnya pondasi tiang pancang dapat ditinjau dari :
  1. Jenis / bahan yang digunakan, meliputi : kayu, baja, beton, atau komposit (perpaduan dari beberapa bahan).
  2. Cara Penyaluran Beban.

Berdasarkan cara penyaluran beban dapat dibedakan atas :

a. Tumpuan Ujung (End Bearing Pile) :

Penyaluran beban dimana sebagian besar daya dukungnya adalah akibat dari perlawanan tanah keras pada ujung tiang. Tiang yang dimasukan sampai lapisan tanah keras, secara teoritis dianggap bahwa seluruh beban tiang dipindahkan kelapisan keras melalui ujung tiang.
Anggapan tanah keras yang dimaksudkan disini sebetulnya relatif dan tergantung dari beberapa faktor, antara lain seperti besar beban yang harus dipikul oleh tiang. Sehingga bisa saja ada anggapan asalkan  pada posisi dimana daya dukung tanahnya sudah mumpuni untuk mengimbangi besarnya beban yang dipikul tiang, maka disitu diasumsikan letak tanah keras berada. Anggapan ini tidak salah tapi juga tidak betul, namun supaya tidak terjadi perbedaan yang tajam dalam perspektif anggapan, maka untuk dianggap sebagai lapisan tanah pendukung yang baik, dapat digunakan ketentuan sebagai berikut :
  1. Lapisan non kohesif (pasir, kerikil) mempunyai harga standard penetration test (SPT), N > 35.
  2. Lapisan kohesif mempunyai harga kuat tekan bebas (Unconfined compression strength) qu antara 3 s/d 4 kg/cm2 atau N > 15 s/d 20.

Dari hasil sondir dapat dipakai kira- kira harga perlawanan konis S ≥ 150 kg/cm2 untuk lapisan non kohesif, dan S ≥ 70 kg/cm2 untuk lapisan kohesif.

b. Tumpuan Geser/Sisi (Friction Pile)

Penyaluran beban dimana sebagian besar daya dukungnya adalah akibat dari gesekan antara tanah dengan sisi- sisi tiang pancang, atau dengan kata lain kemampuan tiang pancang dalam menahan beban hanya mengandalkan gaya geseran antara tiang dengan  tanah disekelilingnya. Hal ini bisa terjadi karena pada dasarnya kenyataan dilapangan mengenai data kondisi tanah tidak bisa diprediksi, sehingga sering kita menjumpai suatu keadaan dimana lapisan yang memenuhi syarat sebagai lapisan pendukung yang baik ditemui pada kedalaman yang dalam, sehingga untuk mendapatkan tumpuan ujungnya kita perlu merogoh kocek lebih dalam dikarenakan biayanya sangat mahal.
Pada kenyataan seperti ini praktis daya dukung yang didapat adalah dari gesekan antara sisi tiang dengan tanah disekelilingnya namun bukan berarti perlawanan diujungnya kita anggap melempem atau tidak ada, tapi pada kenyataannya tumpuan diujung ini juga memiliki andil dalam memberikan sumbangan daya dukung walaupun itu kecil.
Perbedaan dari kedua jenis tiang pancang ini, semata-mata hanya dari segi kemudahan, karena pada umumnya tiang pancang berfungsi sebagai kombinasi antarafriction pile (tumpuan sisi) dan end bearing pile (tumpuan ujung). Kecuali tiang pancang yang menembus tanah yang sangat lembek sampai lapisan tanah dasar yang padat.

Berikut ini adalah beberapa contoh rangkaian pekerjaan pondasi tiang pancang di lapangan :

Gambar 1. Tampak Kepala Tiang Pancang Sebelum Dipecah
Gambar 2. Pemecahan Kepala Tiang Pancang
 Gambar 3.Penyusunan Bata Hebel (sebagai pengganti bekisting), untuk Poer Pondasi
Gambar 4. Perakitan Tulangan Untuk Poer Pondasi
Gambar 5. Perakitan Tulangan Untuk Sloof ke Poer Pondasi
 Gambar 6. Pondasi yang Telah di Cor Beton
 Gambar 7. Tulangan Sisa dari Pondasi Untuk Disambung ke Kolom

Kebiasaan Kita Yang Merusak Jalan

Ada kebiasaan positif dari sebagian masyarakat kita yaitu; menyiram pekarangan dikala musim kemarau maksud menyiram ini adalah untuk membasahi agar tak berdebu dan mudah disapu untuk membersihkan sampah diatas permukaan tanah sekalian memberikan air pada tanaman hias depan rumah bahkan ada yang karena terlalu rajin jalan depan rumah ikut disiram.

Menyirami jalan depan rumah dengan air bersih atau air comberan maksudnya agar tak berdebu terutama untuk jalanan yang setengah jadi alias jalan tanah atau jalan pengerasan saja karena setiap ada mobil yang lewat akan menerbangkan debu yang mengganggu pernapasan terhadap mereka yang berada ditepi jalan bahkan debu dapat menyelinap masuk kedalam rumah dan mengotori perabotan dalam rumah. setiap ada mobil lewat akan disumpahi apalagi kalau mobil tersebut berlari kencang maka akan lebih banyak debu yang dihasilkan. untuk mengatasi ini orang-orangh di pedesaan atau dipinggiran kota sudah terbiasa menyirami jalanan dengan air apakah itu dari sumur, sungai atau air dari pembuangan.

debu_jalanKebiasaan ini terbawa dan masih dipertahankan setelah jalan depan rumah mereka sudah diberi aspal padahal menyiram air setiap hari pada jalan beraspal akan mempercepat pengelupasan aspal jalan, jika diamati maka akan terlihat bagian jalan yang sering disiram air apakah itu berasal dari bekas cucian motor, cucian mobil atau sengaja disiram maka aspalnya lebih cepat rusak dibandingkan dengan jalan yang tidak terkena siraman air tak dipungkiri pula bahwa cepat atau lambatnya kerusakan jalan lebih banyak disebabkan oleh kualitas pengerjaan jalan itu sendiri.

Air bisa mempercepat pengelupasan aspal, Tahu kenapa ? karena aspal itu adalah campuran yang terdiri dari bitumen dan mineral. Bitumen adalah bahan yang berwarna coklat hingga hitam, keras hingga cair mempunyai sifat baik larut dalam Cs2 atau CCL4 dengan sempurna dan mempunyai sifat lunak dan tidak larut dalam air, ter adalah bahan cair berwarna hitam tidak larut dalam air, larut sempurna dalam Cs2 atau CCL4, mengandung zat-zat organik yang terdiri dari gugusan aromat dan mempunyai sifat kekal.

orang siram aspal
Terutama pada saat siang hari, suhu aspal akan naik beberapa bahkan mencair, saat kita siram aspal itu maka aspal cair tersebut akan terkelupas dan menempel pada krikil yang ikut lepas, lama kelamaan aspal tersebut bisa rusak. Akibatnya ada terjadi yg disebut “retak rambut”, “retak buaya”, dll sehingga menimbulkan jalan berlubang.

sumber