Pondasi Tiang Pancang (Pile Cap Foundation)

Tiang pancang saat ini banyak digunakan di Indonesia sebagai pondasi bangunan, seperti jembatan, gedung bertingkat, pabrik atau gedung-gedung industri, menara, dermaga, bangunan mesin-mesin berat,  dll. Dimana semuanya merupakan konstruksi-konstruksi yang memiliki dan menerima beban yang relatif berat. Penggunaan tiang pancang untuk konstruksi biasanya bertitik tolak pada beberapa hal mendasar seperti anggapan adanya beban yang besar sehingga pondasi langsung jelas tidak dapat digunakan, kemudian jenis tanah pada lokasi yang bersangkutan relatif lunak (lembek) sehingga pondasi langsung tidak ekonomis lagi untuk dipergunakan.

Dalam merencanakan pondasi untuk suatu konstruksi dapat digunakan beberapa macam tipe pondasi. Pemilihan tipe pondasi ini didasarkan atas :
  1. Fungsi bangunan atas (upper structure) yang akan dipikul oleh pondasi tersebut.
  2. Besarnya beban dan berat dari bangunan atas.
  3. Kondisi tanah dimana bangunan tersebut akan didirikan.
  4. Biaya pondasi dibandingkan dengan bangunan atas.
Seperti yang kita ketahui bahwa tipe pondasi cukup banyak macamnya, dan tergantung dari fungsi serta kegunaannya. Nah.. salah satu di antara tipe pondasi yang dapat digunakan adalah pondasi tiang pancang. Konstruksi pondasi tersebut bisa terbuat dari kayu, baja, atau beton yang berfungsi untuk meneruskan beban- beban dari struktur bangunan atas ke lapisan tanah pendukung (bearing layers) dibawahnya pada kedalaman tertentu

Mengapa harus Pondasi Tiang Pancang ?

Dikarenakan begitu pentingnya peranan dari pondasi tiang pancang tersebut, maka jika  pembuatannya dibandingkan dengan pembuatan pondasi lain, pondasi tiang pancang ini mempunyai beberapa keuntungan sebagai berikut :
  1. Biaya pembuatannya kemungkinan besar (dengan melihat letak lokasi dan lainnya), lebih murah bila dikonversikan dengan kekuatan yang dapat dihasilkan.
  2. Pelaksanaannya lebih mudah.
  3. Di Indonesia, peralatan yang digunakan tidak sulit untuk didapatkan.
  4. Para pekerja di Indonesia sudah cukup terampil untuk melaksanakan bangunan yang mempergunakan pondasi tiang pancang.
  5. Waktu pelaksanaannya relatif lebih cepat.
Secara umum pemakaian pondasi tiang pancang dipergunakan apabila tanah dasar dibawah bangunan tersebut tidak mempunyai daya dukung (bearing capacity) yang cukup untuk memikul berat bangunan dan beban diatasnya, dan juga bila letak tanah keras yang memiliki daya dukung yang cukup untuk memikul berat dari beban bangunan diatasnya terletak pada posisi yang sangat dalam. Dari alasan itulah maka dalam mendesain Pondasi tiang pancang mutlak diperlukan informasi mengenai :
  1. Data tanah dimana bangunan akan didirikan.
  2.  Daya dukung dari tiang pancang itu sendiri (baik single pile ataupun group pile).
  3. Analisa negative skin friction (karena mengakibatkan beban tambahan).
Gaya geser negatif (negative skin friction) adalah suatu gaya yang bekerja pada sisi tiang pancang dimana gaya tersebut justru bekerja kearah bawah sehingga malah memberikan penambahan beban secara vertikal selain beban luar yang bekerja.Negative skin friction berbeda dengan Positif skin friction, karena positif skin friction justru membantu memberikan gaya dukung pada tiang dalam melawan beban luar/vertikal yang bekerja dengan cara memberikan perlawanan geser disisi-sisi tiang, dengan arah kerja yang berlawanan dari arah gaya luar yang bekerja ataupun gaya dari negative skin friction tersebut.
Negatif skin friction terjadi ketika lapisan tanah yang diperkirakan mengalami penurunan yang cukup besar akibat proses konsolidasi, dimana akibat proses konsolidasi ini, tiang mengalami gaya geser dorong kearah bawah yang bekerja pada sisi sisi tiang (karena terbebani). keadaan ini disebut sebagai keadaan dimana tiang mengalami gaya geser negatif (negative skin friction). Nah….jika jumlah gaya gaya sebagai akibat dari beban luar dan gaya geser negatif ini melebihi gaya dukung tanah yang diizinkan, maka akan terjadilah penurunan tiang yang disertai dengan penurunan tanah disekitarnya.
Keadaan ini bisa terjadi karena tanahnya yang lembek, pemancangan pondasi pada daerah timbunan baru, atau akibat penurunan air tanah pada tanah yang lembek, dimana kondisi tersebut memungkinkan terjadinya penurunan atau konsolidasi tanah yang cukup besar. Pondasi tiang pancang hendaknya direncanakan sedemikian rupa sehingga gaya luar yang bekerja pada kepala tiang tidak melebihi gaya dukung tiang yang diizinkan. Adapun yang dimaksud dengan gaya dukung tiang yang diizinkan adalah meliputi aspek gaya dukung tanah yang diizinkan, tegangan pada bahan tiang perpindahan kepala tiang yang diizinkan, dan gaya- gaya lain (seperti perbedaan tekanan tanah aktif dan pasif).
Perhitungan serta pengevaluasian tersebut tidak saja dilaksanakan terhadap tiang secara individu (single pile) tetapi juga harus dilaksanakan terhadap tiang-tiang dalam kelompok (group pile). Umumnya pondasi tiang pancang dapat ditinjau dari :
  1. Jenis / bahan yang digunakan, meliputi : kayu, baja, beton, atau komposit (perpaduan dari beberapa bahan).
  2. Cara Penyaluran Beban.

Berdasarkan cara penyaluran beban dapat dibedakan atas :

a. Tumpuan Ujung (End Bearing Pile) :

Penyaluran beban dimana sebagian besar daya dukungnya adalah akibat dari perlawanan tanah keras pada ujung tiang. Tiang yang dimasukan sampai lapisan tanah keras, secara teoritis dianggap bahwa seluruh beban tiang dipindahkan kelapisan keras melalui ujung tiang.
Anggapan tanah keras yang dimaksudkan disini sebetulnya relatif dan tergantung dari beberapa faktor, antara lain seperti besar beban yang harus dipikul oleh tiang. Sehingga bisa saja ada anggapan asalkan  pada posisi dimana daya dukung tanahnya sudah mumpuni untuk mengimbangi besarnya beban yang dipikul tiang, maka disitu diasumsikan letak tanah keras berada. Anggapan ini tidak salah tapi juga tidak betul, namun supaya tidak terjadi perbedaan yang tajam dalam perspektif anggapan, maka untuk dianggap sebagai lapisan tanah pendukung yang baik, dapat digunakan ketentuan sebagai berikut :
  1. Lapisan non kohesif (pasir, kerikil) mempunyai harga standard penetration test (SPT), N > 35.
  2. Lapisan kohesif mempunyai harga kuat tekan bebas (Unconfined compression strength) qu antara 3 s/d 4 kg/cm2 atau N > 15 s/d 20.

Dari hasil sondir dapat dipakai kira- kira harga perlawanan konis S ≥ 150 kg/cm2 untuk lapisan non kohesif, dan S ≥ 70 kg/cm2 untuk lapisan kohesif.

b. Tumpuan Geser/Sisi (Friction Pile)

Penyaluran beban dimana sebagian besar daya dukungnya adalah akibat dari gesekan antara tanah dengan sisi- sisi tiang pancang, atau dengan kata lain kemampuan tiang pancang dalam menahan beban hanya mengandalkan gaya geseran antara tiang dengan  tanah disekelilingnya. Hal ini bisa terjadi karena pada dasarnya kenyataan dilapangan mengenai data kondisi tanah tidak bisa diprediksi, sehingga sering kita menjumpai suatu keadaan dimana lapisan yang memenuhi syarat sebagai lapisan pendukung yang baik ditemui pada kedalaman yang dalam, sehingga untuk mendapatkan tumpuan ujungnya kita perlu merogoh kocek lebih dalam dikarenakan biayanya sangat mahal.
Pada kenyataan seperti ini praktis daya dukung yang didapat adalah dari gesekan antara sisi tiang dengan tanah disekelilingnya namun bukan berarti perlawanan diujungnya kita anggap melempem atau tidak ada, tapi pada kenyataannya tumpuan diujung ini juga memiliki andil dalam memberikan sumbangan daya dukung walaupun itu kecil.
Perbedaan dari kedua jenis tiang pancang ini, semata-mata hanya dari segi kemudahan, karena pada umumnya tiang pancang berfungsi sebagai kombinasi antarafriction pile (tumpuan sisi) dan end bearing pile (tumpuan ujung). Kecuali tiang pancang yang menembus tanah yang sangat lembek sampai lapisan tanah dasar yang padat.

Berikut ini adalah beberapa contoh rangkaian pekerjaan pondasi tiang pancang di lapangan :

Gambar 1. Tampak Kepala Tiang Pancang Sebelum Dipecah
Gambar 2. Pemecahan Kepala Tiang Pancang
 Gambar 3.Penyusunan Bata Hebel (sebagai pengganti bekisting), untuk Poer Pondasi
Gambar 4. Perakitan Tulangan Untuk Poer Pondasi
Gambar 5. Perakitan Tulangan Untuk Sloof ke Poer Pondasi
 Gambar 6. Pondasi yang Telah di Cor Beton
 Gambar 7. Tulangan Sisa dari Pondasi Untuk Disambung ke Kolom

Wisata Kabut Asap di Kota Jambi

Kemarin tanggal 8-9 Oktober 2014 saya berkesempatan melakukan survey lokasi pembongkaran batu split bersama rekan-rekan di kota Jambi dan Sungai Lilin. Bertiga berangkat dari Jakarta menggunakan pesawat Sriwijaya Air yang sempat mengalami delay 40 menit dikarenakan kondisi di bandara Sultan Thaha Syaifuddin yang akan kita tuju, terhalang jarak pandang hanya 200 meter, sedangkan jarak pandang aman untuk mendarat adalah 800 meter (Baca : Kabut Asap Juga Ganggu Bandara Banjarmasin).

20141008_111006_resize 20141008_111024_resize 20141008_111135_resize 20141009_125213_resize

Setibanya di Jambi, kita sempat bersantap di resto padang RM.Aroma Cempaka di daerah kampung manggis. Kata rekan kalau ke resto itu belum cobain ayam goreng dan es jeruk kelapa, berarti gak bisa dibilang sudah mampir ke sana, haha.. ada2 saja.. Cuma sayang jeruknya bukan jeruk murni tapi jeruk Nutris*ri.. haha..

AROMA CEMPAKA es kelapa jeruk

Gambar es jeruk kelapa hanya ilustrasi, karena lupa dokumentasi

Setelah berkeliling ke kantor user, dan rencana survey lokasi bongkar yang akhirnya dibatalkan karena ada kendala jembatan dan kondisi kedalaman air sungai yang tidak memungkinkan untuk kapal besar, kita memutuskan untuk menginap di hotel Lestari. Tarifnya berkisar antara IDR 200,000 s/d 275,000.

Hotel Lestari

Esoknya kita pergi ke pelabuhan Talang Duku, Jambi untuk survey lokasi bongkar

Screenshot_2014-10-09-10-29-18_resize 20141009_104322_resize

Demikian sekilas kunjungan kerja kami ke kota Jambi.

sumber

Proyek Pemadatan Jalan Raya

Proses pembuatan jalan raya

Jalan raya di indonesia pada umumnya menggunakan jalan asphalt, bagaimanakah cara membuat jalan asphalt?

Secara garis besar pekerjaan jalan dibagi :

  1. Pekerjaan Pemetaan (Pengukuran badan jalan)
  2. Pekerjaan Clearing & Grubbing (Pembersihan badan jalan dari pohon dan tanah lapisan atas)
  3. Pekerjaan Stripping (Pembentukan badan jalan)
  4. Pekerjaan Sub Grade ( Pemadatan Tanah)
  5. Pekerjaan Sub Base Coarse (Pondasi Bawah)
  6. Pekerjaan Base Coarse (Pondasi Atas). Tambahkan Prime coad (Lapis Pengikat antara Base coarse dan ATB)
  7. Pekerjaan Wearing Coarse (Lapisan Atas) = ATB. Tambahkan Take Coad ( Lapis Pelekat antara ATB dan Hotmix)
  8. Pekerjaan Surface Coarse (Lapisan Permukaan) = HOTMIX
  9. Pekerjaan Marka Jalan
  10. Pekerjaan Pemasangan Rambu Jalan

berikut urutan kerja pembuatan jalan asphalt beserta alat-alat berat dan kegunaanya

pembersihan dan perataan lahan

Sebelum jalan raya dibangun, lahan dibersihkan dahulu dari sampah maupun pepohonan kemudian diratakan.

untuk membersihkan lahan dan menggali maupun mengurug tanah

excavator

setelah lahan dibersihkan kemudian dilakukan pekerjaan perataan tanah dengan menggunakan alat buldozer

buldozer

untuk memindahkan tanah bekas galian maka digunakan dump truk

Penghamparan material pondasi bawah

penghamparan material pondasi bawah berupa batu kali menggunakan alat transportasi dump truk kemudian diratakan dan dipadatkan dengan menggunakan alat tandem roller

Tandem roller

pekerjaan perataan dengan tandem roller di lakukan lagi pada saat penghamparan lapis pondasi atas, dan lapir permukaan.

pada saat penghamparan material pondasi dilakukan pekerjaan pengukuran elevasi urugan dengan alat teodolit dan perlengkapanya.

Penghamparan lapis asphalt

setelah lapisan pondasi bawah selesai dikerjakan, proses selanjutnya adalah penghamparan asphalt yang sebelumya sudah dipanaskan terlebih dahulu sehingga mencair.

untuk menghamparkan asphalt digunakan alat asphalt finisher

asphalt finisher

setelah asphalt berhasil dihamparkan dengan elevasi jalan raya yang sudah diukur menggunakan theodolit sesuai perencanaan pekerjaan selanjutnya adalah pemadatan dengan buldozer hingga memenuhi kepadatan dan elevasi yang direncanakan
pekerjaan selanjutnya adalah finishing pemadatan dan perataanjalan raya dengan alat peneumatic roller

peneumatic roller

jalan raya sudah jadi dengan konstruksi sebagai berikut:

lapisan jalan raya

sumber

Uji Kuat Tekan Beton Konstruksi

UJI KUAT TEKAN BETON

MAKSUD DAN TUJUAN

Menerangkan prosedur pemeriksaan kuat tekan beton.

Membuat beton sesuai dengan rancangan beton yang diingikan.

PERALATAN DAN BAHAN

Peralatan

  1.  Mesin tekan
  2. Tongkat pemada
  3. Cetakan beton
  4.  Mistar
  5. Timbangan kapasitas 20 kg

Bahan

Adukan beton untuk benda uji harus diambil langsung dari mesin pengaduk dengan menggunakan peralatan yang tidak menyerap air, adukan beton harus diaduk lagi sebelum dimasukan dalam cetakan.

PROSEDUR PERCOBAAN

Pembuatan benda uji :

  1. Isi cetakan dengan adukan beton dalam 3 lapis, setiap lapis berisi kira-kira 1/3 isi cetakan. Setiap lapis dipadatkan dengan tongkat pemadat sebanyak 25 kali secara merata.
  2. Ratakan permukaan beton.
  3. Biarkan beton dalam cetakan selama ± 24 jam dan letakkan pada tempat yang bebas getaranserta ditutup dengan bahan yang kedap air.
  4. Setelah 24 jam, bukalah cetakan dan keluarkan benda uji.
  5. Rendam benda uji dalam bak yang berisi air agar proses perawatan (curring) beton berlangsung dengan baik, maka peredam dilakukan sampai batas waktu pengujian kuat tekan beton.

Penekanan benda uji :

  1. Ambil benda uji dari bak perendam dan lap dengan menggunakan lap lembab.
  2. Tentukan berat dan ukuran benda uji.Perhatikan :Jika benda ujinya berbentuk silinder, sebelum benda uji tersebut ditekan harus diberi lapisan mortal / semen dipermukaan atas  dan bawah setebal 4 mm untuk meratakan permukaan bidang tekan.
  3. Letakkan benda uji pada mesin penekan secara sentris.
  4. Jalankan mesin penekan dengan penambahan beban terutama berkisar antara 2 – 4 kg/cm2.

Hitung kuat tekan beton dari benda uji tersebut.

PERHITUNGAN

            KUAT TEKAN BETON ( σ bk )       = P/A

P          = Beban maksimum ( kN )

A         = Luas penampang bidang tekan (cm2 )

No Umur Berat

( Kg )

Diameter

( cm )

Tinggi

( cm )

Luas

( cm2 )

Beban Tekan

(kN)

1 3 hari 12,57 15 30,3 176.625 190
2 3 hari 12,52 15 30,4 176.625 200
3 3 hari 12,66 15 30,3 176.625 210
1 7 hari 12,66 15 30,2 176.625 320
2 7 hari 12,53 15 30,0 176.625 300
3 7 hari 12,69 15 30,4 176.625 350
1 14 hari 12,60 15 30,1 176.625 390
2 14 hari 12,65 15 30,1 176.625 400
3 14 hari 12,73 15 30,5 176.625 400
1 28 hari 12,70 15 30,4 176.625 480
2 28 hari 12,65 15 30,5 176.625 460
3 28 hari 12,60 15 30,2 176.625 420

LUAS                                                   =1/4πd2

BEBAN RATA-RATA ( P )                  =Beban Tekan Dijumlahkan/3

KUAT TEKAN BETON ( σ bk )          = P/A

Hasil Perhitungan

 

Umur Beban tekan rata-rata (P) Kuat tekan beton (σnk)
3 hari 200 1.13
7 hari 323.33 1.83
14 hari 396.67 2.25
28 hari 453.33 2.57

CATATAN

  • Masukkan data hasil pemeriksaan kedalam formulir kekuatan tekan beton.
  • Benda uji untuk pemeriksaan kuat tekan beton berdasarkan PBI’71 ada 3 bentuk, yaitu :
No Benda uji Pembanding kuat tekan
1 Kubus    15 x 15 x 15 cm 1,00
2 Kubus    20 x 20 x 20 cm 0,95
3 Silinder 15 x 30 cm 0,83
  • Benda uji kubus permukaan bidang tekannya tidak dilapisi adukan merata.
  • Pemeriksaan kekuatan tekan beton biasanya dilakukan pada umur 3 hari, 7 hari, 14 hari, 28 hari.
PERBANDINGAN KEKUATAN TEKAN BETON PADA BERBAGAI UMUR
Umur beton ( hari ) 3 7 14 21 28 90 360
Semen Portland ( biasa ) 0,40 0,65 0,88 0,95 1,00 1,20 1,35
Semen Portland kekuatan awal tinggi 0,55 0,75 0,90 0,95 1,00 1,15 1,20
  • Laporkan kekuatan tekan karakteristik beton.

KESIMPULAN

Dari hasil grafik perbandingan kuat tekan beton dan umur beton pada praktikum diatas diperoleh nilai kuat tekan beton pada 28 hari adalah 2,54 kN/cm2.

sumber

Ukuran Standar Coarse Aggregat BAG.3. SARINGAN

Saringan dirancang untuk penggunaan laboratorium dalam pengujian bahan. Ya, ada laboratorium yang menguji batu dan campuran aspal.

Saringan dapat bulat atau persegi dalam bentuk dan memiliki wire mesh membentang di bingkai. Wire mesh sendiri memiliki berbagai ukuran. Saringan, seperti layar tambang, yang dinamai sesuai dengan ruangan antara kabel di mesh. Sebagai contoh, 1 “saringan akan memiliki 1″ ruang antara kawat mesh. A 3/8 “saringan akan memiliki 3/8″ ruang antara kawat mesh. Semakin kecil ukuran saringan, mereka mulai disebut dengan “angka” atau “Tidak”, atau “#”. Jumlah nama mereka menunjukkan jumlah bukaan dalam inci linear mesh. Sebagai contoh, kita membahas # 4 saringan di atas ketika berbicara tentang gradasi. Jika Anda menggunakan caliper, penggaris atau alat pengukur lainnya dan memeriksa satu inci linear mesh pada # 4 saringan, Anda akan menemukan bahwa ia memiliki empat bukaan dalam inci linear. Saringan yang digunakan dalam industri kami biasanya berkisar dari yang terbesar pada 2 “atau 1 1/2″, turun ke terkecil di # 200. Ya, itu berarti bahwa dalam satu inci linear, # 200 saringan memiliki 200 bukaan. Agen seperti ASTM International atau The American Association Negara dan Lintas Angkutan Jalan Pejabat (AASHTO) memiliki spesifikasi mengenai toleransi yang diijinkan saringan, bagaimana mereka dibangun, apa ukuran kawat, dll

Berikut adalah seperti apa saringan terlihat …

saringan sieves agregat1

Biasanya saringan disusun seperti “sarang” yang merupakan tumpukan saringan, dari pembukaan terbesar ke terkecil.

saringan sieves agregat 2

Saringan merupakan bagian dari peralatan yang digunakan untuk memisahkan batu ke berbagai ukuran di laboratorium. Jika Anda bisa membayangkan saringan pada skala yang lebih besar, Anda memiliki layar mesh yang digunakan pada pertambangan untuk membantu ukuran batu dalam berbagai ukuran dan fraksi. Namun, di laboratorium, sampel kecil dari agregat diuji dengan ditempatkan di saringan dan diguncang. Ini menentukan distribusi ukuran partikel sampel dan memberikan hasil tes gradasi.

Berikut adalah melihat apa bahan (atau agregat) terlihat seperti setelah keluar dari saringan – atau dipisahkan menjadi ukuran …

saringan sieves agregat

sumber

Ukuran Standar Coarse Aggregat Bag.2. AGREGAT KASAR dan HALUS

Bahan yang sebagian besar di lingkungan +1/4 “dianggap sebagai agregat kasar. Bahan yang sebagian besar lebih kecil dari 1/4 “(minus seperempat inci atau ‘-1/4″‘) biasanya dianggap sebagai agregat halus. Kebanyakan tambang biasanya tidak menggunakan layar yang lebih kecil dari 1/4 “, tetapi kadang ada pesanan tertentu, agregat halus khusus.

Di segmen ini kita bahas layar dan bukaan, jadi sekarang kita tahu kemana “Square Openings” mengacu. Kami berbicara tentang perbedaan antara agregat kasar dan halus. ASTM International. “C-33″ yang tercantum pada tabel hanya spesifikasi penunjukan.

 Sekarang, kita sudah bicara tentang material tersisihkan sebagai apa pun layar berukuran – plus (yaitu 1 “). Bahan ini akan dianggap “kasar” dari “saringan 1 karena tidak bisa melewati itu dan tersisihkan. Jika batu melewati 1″ layar, itu akan dianggap” lebih baik “dari 1″ saringan (atau, seperti yang kita disinggung sebelumnya, -1 “). Sekarang kita membahas “jumlah lebih halus dari setiap laboratorium saringan pembukaan”. Mengabaikan referensi “laboratorium saringan” sekarang, dan hanya berpikir dalam hal screen mesh tambang; kita akan membahas saringan laboratorium dalam sekejap. Jika semua bahan berlari melewati satu layar gradasi (sebagai contoh gradasi 1”), maka kita memiliki apa yang dikenal di industri sebagai agregat dengan 100% melewati 1″ layar (atau saringan) .

astm_c33 standar agregat beton concrete

Lihatlah 57 ukuran pada grafik. Lihatlah di baris sampai Anda melihat “96-100″. Angka-angka di bawah kolom “1. Itu berarti bahwa 96-100% dari agregat harus melalui “layar 1 untuk agregat untuk dianggap sebagai ukuran 57. Tapi tunggu, masih ada lagi! Lanjutkan di sepanjang baris dan Anda akan melihat “26-60″ di bawah 1/2 “kolom, serta” 0-10 “di bawah” Nomor 4 “dan” 0-5 “di bawah” Nomor 8 “. Ini berarti ada persyaratan lebih lanjut untuk agregat harus diklasifikasikan sebagai 57. A 57 harus memiliki antara 26-60% dari bahan melalui (atau lewat) “layar 1/2, nol sampai 10% melewati # yang 4 layar dan nol sampai 5% melewati # 8 layar. 

Yang penting adalah memahami bahwa sebagian besar ukuran agregat tidak hanya didasarkan pada “ukuran atas” atau jumlah melewati saringan terbesar untuk agregat itu – mereka benar-benar memiliki persyaratan berdasarkan ukuran lain juga. Hal ini memungkinkan quarry tambang untuk mencampur berbagai ukuran bahan bersama-sama yang diperlukan untuk memenuhi gradasi tertentu. Apa yang menentukan bagaimana sebuah tambang beroperasi dan mendirikan penghancur stone crusher dan pabrik skrining? Apa yang menentukan berapa banyak pencampuran harus mereka lakukan? Banyak faktor. Faktor-faktor ini dapat mencakup ekonomi, peralatan, kebutuhan pelanggan, cara meremukkan alami batu dan patahan batu, jenis bahan itu sendiri (granit, basalt, batu kapur, dll ) di antara banyak faktor lainnya. Hal ini mungkin juga berhubungan dengan tes materi tertentu properti, tes gradasi, memakai peralatan dan lapisan screening, dan pertimbangan operasional lainnya yang mungkin diperlukan tambang untuk memiliki beberapa fleksibilitas.

sumber

Ukuran Standar Coarse Aggregat Bag.1 GRADASI

Sebelum kita mengetahui tentang aspal, perlu untuk mempelajari beberapa informasi dasar tentang semua komponen utama dari campuran aspal sebelum kita benar-benar bisa belajar tentang campuran aspal itu sendiri. Karena agregat membuat sekitar 95% dari suatu campuran aspal, wajar kita mulai dari sana.

Pertama, mari kita mulai dari dengan Gradasi …

GRADASI

Gradasi agregat adalah distribusi ukuran berbagai agregat dalam suatu material. Jika Anda mengambil sampel atau memesan beberapa agregat, hal itu mungkin karena beberapa batu besar dan beberapa batu kecil, atau sebagian besar atau sebagian kecil, atau Anda mungkin memiliki beberapa batu berukuran sedang secara agregat Anda juga, tergantung pada jenis agregat Anda memesan .

Ketika tambang sedang memproses bahan, ukuran, mereka umumnya mengikuti “gradasi”. Mereka memiliki besar “deck layar” dalam tambang yang memiliki layar ukuran yang berbeda yang memisahkan bahan menjadi ukuran. Berikut adalah beberapa gambar dari lapisan mesh

screen_mesh agregat split

screen_mesh_2

Mesh memiliki ukuran tertentu untuk itu. Anda dapat melihat bukaan adalah “persegi”. Jika Anda menggunakan 1″ mesh, bukaan akan menjadi 1″ (dalam jumlah tertentu toleransi yang diijinkan) ketika diukur tepat dalam bukaan (jarak dari satu kawat ke kawat paralel berikutnya, di kedua arah). Mesh dapat bervariasi dalam ukuran dari beberapa inci / cm (2″, 3″, 4″, dll) untuk jaring kecil dari 1/4″ atau lebih kecil.

Ketika tambang quarry membuat agregat tertentu, mereka dapat menjalankan materi atas layar atau dek layar (dengan beberapa layar) untuk membuat agregat itu. Layar pertama biasanya “layar scalping” yang melepas agregat kebesaran. Jika Anda sedang membuat agregat yang seharusnya lebih kecil dari satu inci, layar scalping Anda akan menjadi inci. Dengan cara itu, setiap 1 “atau lebih besar batu akan melewati melalui layar itu. Bahan tersebut akan disebut “satu inci plus” atau “plus satu inci”, dan dinotasikan sebagai ‘+1 “. The +1 “tidak dapat dibuang; itu kemungkinan akan dialihkan mesin pencacah lain untuk membuat agregat yang memerlukan +1 “material.

Standard Sizes of Coarse Aggregate
Products
table ukuran agregat1
table ukuran agregat2

Catatan: Gradasi dalam Tabel 1 merupakan batas ekstrim untuk berbagai ukuran menunjukkan yang akan digunakan dalam menentukan kesesuaian untuk penggunaan agregat kasar dari semua sumber pasokan. Untuk setiap kelas dari salah satu sumber, gradasi yang tidak dapat dimintai cukup seragam dan tidak tunduk pada persentase ekstrim gradasi yang ditentukan di atas.

sumber

Klasifikasi Agregat

Agregat adalah sekumpulan butir- butir batu pecah, kerikil, pasir, atau mineral lainnya baik berupa hasil alam maupun buatan (SNI No: 1737-1989-F). Agregat adalah material granular, misalnya pasir, kerikil, batu pecah yang dipakai bersama-sama dengan suatu media pengikat untuk membentuk suatu beton semen hidraulik atau adukan.

Image

Menurut Silvia Sukirman, (2003), agregat merupakan butir‐butir batu pecah split, kerikil, pasir atau mineral lain, baik yang berasal dari alam maupun buatan yang berbentuk mineral ppadat beruppa ukuran besar mauppun kecil atau fragmen‐fragmen.

Agregat merupakan komponen utama dari struktur perkerasan jalan, yaitu 90% – 95% agregat berdasarkan persentase berat, atau 75 –85% agregat berdasarkan persentase volume. Dengan demikian kualitas perkerasan jalan ditentukan juga dari sifat agregat dan hasil campuran agregat dengan material lain.

Sifat Agregat

Sifat agregat merupakan salah satu faktor penentu kemampuan perkerasan jalan memikul beban lalu lintas dan daya tahan terhadap cuaca. Yang menentukan kualitas agregat sebagai material perkerasan jalan adalah:

• gradasi
• kebersihan
• kekerasan
• ketahanan agregat
• bentuk butir
• tekstur permukaan
• porositas
• kemampuan untuk menyerap air
• berat jenis, da
• daya kelekatan terhadap aspal.

Sifat agregat tersebut sangat dipengaruhi oleh jenis batuannya.

Karakteristik bagian luar agregat, terutama bentuk partikel dan tekstur permukaan memegang peranan penting terhadap sifat beton segar dan yang sudah mengeras. Menurut BS 812 : Part 1: 1975, bentuk partikel agregat dapat dibedakan atas:

• Rounded 
• Irregular
• Flaky 
• Angular
• Elonggated 
• Flakyy & Elonggated

Klasifikasi Agregat

• Agregat Ringan adalah agregat yang dalam keadaan kering dan gembur mempunyai berat 1100 kg/m3 atau kurang. 
• Agregat Halus adalah pasir alam sebagai hasil desintegrasi _alami_ bantuan atau pasir yang dihasilkan oleh inustri pemecah batu dan mempunyai ukuran butir terbesar 5,0 mm. 
 Agregat Kasar adalah kerikil sebagai hasil desintegrasi alami dari bantuan atau berupabatu pecah yang diperoleh dari industri pemecah batu dan mempunyai ukuran butir ntara 5-40 mm. Agregat Kasar, adalah agregat dengan ukuran butiran butiran lebih lebih besar besar dari dari saringan saringan No.88 (2,36 mm)
• Bahan Pengisi (abu / filler), adalah bagian dari agregat halus yang minimum 75% lolos saringan no. 30 (0,06 mm)

Image
Jenis Agregat berdasarkan proses pengolahannya
• Agregat Alam. Agregat yang dapat dipergunakan sebagaimana bentuknya di alam atau dengan sedikit proses pengolahan. Agregat ini terbentuk melalui proses erosi dan degradasi. Bentuk partikel dari agregat alam ditentukan proses pembentukannya.
• Agregat melalui proses pengolahan. Digunung‐gunung atau dibukit‐bukit, dan sungai‐sungai sering ditemui agregat yang masih berbentuk batu gunung, dan ukuran yang besar‐besar sehingga diperlukan proses pengolahan terlebih dahulu sebelum dapat digunakan sebagai agregat konstruksi jalan.
• Agregat Buatan.  Agregat yang yang merupakan merupakan mineral filler/pengisi (partikel dengan ukuran < 0,075 mm), diperoleh dari hasil sampingan pabrik‐pabrik semen atau mesin pemecah batu.

Klasfikasi agregat berdasarkan besar partikelnya :

1. Agregat kasar, lebih besar dari 4,75mm (ASTM) dan atau lebih besar dari 2mm (AASHTO)

2. Agregat halus, kurang dari 4,75 mm (ASTM) dan atau 0,075 sampai 2 mm (AASHTO)

sumber

Definisi Sirtu Pasir Batu Gravel

Sirtu adalah singkatan dari pasir batu. Orang kadang menyebutnya dengan gravel atau base course. Sirtu terjadi karena akumulasi pasir dan batuan yang terendapkan di daerah-daerah relatif rendah atau lembah. Sirtu biasanya merupakan bahan yang belum terpadukan dan biasanya tersebar di daerah aliran sungai. Sirtu juga bisa diambil dari satuan konglomerat atau breksi yang tersebar di daerah daratan (daerah yang tinggi).

sirtu base gravel

 

Sirtu berasal dari dua bagian yang yang berukuran besar merupakan material dari batuan beku, metamorf dan sedimen. Sedangkan berukuran halus terdiri pasir dan lempung. Seluruh material tersebut tererosi dari batuan induknya bercampur menjadi satu dengan material halus. Kuatnya proses ubahan atau pelapukan batuan dan jauhnya transportasi sehingga material batuan berbentuk elip atau bulat dengan ukuran mulai kerikil sampai bongkah.

Penggunaan sirtu terbatas sebagai bahan bangunan terutama untuk campuran beton, sedang penggalian sering dilakukan dengan secara tradisional tanpa memperhatikan dampak lingkungan. Sirtu yang lepas sangat baik untuk bahan pengeras jalan biasa maupun jalan tol, dan airport. Selain itu dapat pula dipergunakan dalam campuran beton, aspal/hotmix, plester, bahan bangunan dan tanah urug.

 

 

  1. Asal Mula jadi

Sirtu adalah singkatan dari pasir batu, karena komposisi ukuran butir yang tidak seragam. Sirtu terjadi karena akumulasi pasir dan batuan yang terendapkan di daerah-daerah relatif rendah atau lembah. Sirtu yang terdapat di beberapa wilayah umumnya berasal dari pasir dan batuan gunungapi, bersifat andesitik dan sering bercampur dengan pasir batu apung.

Sirtu biasanya merupakan bahan yang belum terpadukan dan biasanya tersebar di daerah aliran sungai. Sirtu juga bisa diambil dari satuan konglomerat atau breksi yang tersebar di daerah daratan (daerah yang tinggi).

Sirtu berasal dari dua bagian yang yang berukuran besar merupakan material dari batuan beku, metamorf dan sedimen. Sedangkan berukuran halus terdiri pasir dan lempung. Seluruh material tersebut tererosi dari batuan induknya bercampur menjadi satu dengan material halus. Kuatnya proses ubahan atau pelapukan batuan dan jauhnya transportasi sehingga material batuan berbentuk elip atau bulat dengan ukuran mulai kerikil sampai bongkah.

Biasanya sirtu diendapkan pada lingkungan air seperti sungai, danau maupun laut dikenal dengan sebutan aluvium. Kenampakan sirtu saat ini adalah sesuatu yang tidak padu antara meterial batuan dengan halusnya. Bila endapan aluvium ini sudah terbentuk dengan ketebalan dan penyebaran yang sangat luas, bersamaan dengan berjalannya waktu dan proses geologi yang berkerja sehingga kenampakan batuan ini sudah berada pada daerah ketinggian atau bukit. Nama sirtu pun beralih menjadi konglomerat karena batuan tersebut sudah padu menjadi satu antara material batuan dengan material halusnya.

 

  1. Nama

Sirtu merupakan singkatan dari pasir diambil sir dan batu diambiltu sehingga singkatannya menjadi sirtu. Istilah sirtu telah dikenal oleh orang teknik terutama yang berkecimpung dan bidang fisik jalan maupun pembangunan gedung. Sirtu biasanya diambil dari endapan sungai atau yang terdapat digunung tetapi materialnya sudah berkomposisi seperti sirtu dari sungai.

 

  1. Sifat Fisik

Sirtu

  1. Agregat pasir memenuhi persyaratan di bawah ini :

¨      Agregat pasir harus terdiri dari butir-butir yang tajam dan keras dengan indikasi  kekerasan £ 2,2. Butir-butir agregat halus harus bersifat kekal

¨      Agregat pasir tidak boleh mengandung zat-zat yang dapat merusak beton, seperti zat-zat yang reaktif alkali

 

  1. Agregat lempung memenuhi persyaratan di bawah ini :

¨      Agregat halus tidak boleh mengandung bahan-bahan organis terlalu banyak

¨      Agregat halus tidak boleh mengandung lumpur lebih dari 5 % (ditentukan terhadap berat kering)

 

  1. Agregat batuan memenuhi persyaratan di bawah ini :

¨      Ukuran maksimum, ft2            : 75 (ASTM C615-80)

¨      Densitas lbs/ ft2                       : (ASTM C-97)

- Rendah                                  : 150

- Minimal diinginkan  : 160

- Tinggi                                    : 190

¨      Penyerapan air % berat          :

(ASTM C-121)                (ASTM C-97)

- Rendah                                  : 0,02

- Minimal diinginkan  : 0,40

¨      Kuat tekan, ksi             : (ASTM C-170)

- Minimal diinginkan  : 90

- Tinggi                                    : 52

¨      Kuat tarik, ksi                          : (ASTM C-99)

- Minimal diinginkan  : 1,5

- Tinggi                                    : 5,5

¨      Modulus elastisitas, ksi           :

- Rendah                                  : 2

- Tinggi                                    : 10

¨      Ketahanan Abrasi                    : tidak diinginkan

(ASTM C-241)

 

Paduan antara material yang besar-besar seperti material batuan dan material pasir serta material lempung. Material batuan beku sangat baik untuk bahan pondasi bangunan ringan – sedang, sedangkan material halus sangat baik untuk pengisi celah dan batuan bangunan.

 

  1. Kegunaan

Sampai saat ini penggunaan sirtu terbatas sebagai bahan bangunan terutama untuk campuran beton, sedang penggalian sering dilakukan dengan secara tradisional tanpa memperhatikan dampak lingkungan. Sirtu yang lepas sangat baik untuk bahan pengeras jalan biasa maupun jalan tol, dan airport. Selain itu dapat pula dipergunakan dalam campuran beton, aspal/hotmix, plester, bahan bangunan dan tanah urug.

Sesuai dengan pemakaiannya serta harus memenuhi persyaratan (Tabel 1. dan 2.) sebagai berikut :

¨      Untuk dipakai sebagai agregat beton, sirtu harus bebas dari bahan-bahan organis, kotoran-kotoran, lempung atau bahan lainnya merugikan mutu beton;

¨      Dalam pemakaiannya untuk konstruksi jalan sirtu/agregat terbagi dalam 3 kelas (A,B dan C) dengan persyaratan yang berbeda baik untuk di bawah lapisan dasar maupun untuk lapisan dasar;

¨      Persyaratan agregat untuk di bawah lapisan dasar adalah sepeti tercantum pada Tabel 1. dan 2.;

¨      Agregat untuk lapisan dasar harus memenuhi persyaratan umum sebagai  berikut:

-         Kekerasan minimum 6

-          Kehilangan berat dengan percobaan sodium sulfat, % maksimum 10

-          Kehilangan berat dengan percobaan magnesium sulfate soundness test, % maks. 12

-          Kehilangan berat akibat abrasi sesudah 100 putaran, % maksimum 10

-          Kehilangan berat akibat abrasi sesudah 500 putaran, % maksimum 40

-         Partikel – partikel tipis, memanjang, prosentase berat (partike lebih besar dari 1”  dengan ketebalan kurang dari 1/5 panjang) , maks 5 %

-         Bagian-bagian batu yang lunak, maksimum 5 %

-         Gumpalan-gumpalan lempung % maksimum. 0,25 %

 

Tabel 1.  Persyaratan Sirtu

     Uraian Syarat-Syarat      Klas A     Klas B

     Klas C

  1. Prosentase berat yang lewat                 ayakan (ASTM) dalam (%)

3’’

2”

1 ½”

1”

3/4″

No. 4

No. 8

No. 10

No. 200

  1. Keterangan pasir, min
  2. Kehilangan berat akibat    abrasi dari partikal yang tertinggal pada ayakan.

ASTM no. 12 (AASHOT                       96), maks.

  1. Campuran agregat

 

 

 

 

5. Index plastis, maks.

6. batas cair, maks.

 

100

-

60 – 90

46 – 78

40 – 70

13 – 45

6 – 36

-

0 – 10

25

 

 

 

 

40

 

batu pecah

kerikil

pecah

 

 

-

-

 

-

100

70 – 100

55 – 85

50 – 80

30 – 60

 

20 – 50

5 – 15

25

 

 

 

 

40

 

kerikil

pasir

batu pecah

 

6

25

 

-

-

100

-

-

-

 

85 maks

15 maks

25

 

 

 

 

40

 

pasir

kerikil

 

 

 

-

-

Sumber : Standar : Spesifikasi Bahan Bangunan Bagian A (Sk SNI-04-1989-F)

 

Tabel 2. Persyaratan Kelas Tiap Agregat

Uraian syarat-syarat Klas A Klas B Klas C
1. Prosentase berat yang     lewat ayakan standard dalam %2 1/2”

2”

1 1/2″

1

3/4″

1/2″

3/8”

No. 4

No. 100

No. 200

 

2. Index plastis,maks.

 

3. sand equivalent, minimum

 

4. batas cair, maksimum

 

 

100

90 – 100

35 – 70

0 – 15

-

0 – 5

-

 

 

-

 

-

 

-

 

-

 

 

 

-

-

100

60 – 100

-

 

-

35 – 60

 

8 – 15

 

8

 

50

 

25

 

 

-

-

-

 

-

 

100

85 – 100

10 – 20

-

 

6

 

30

 

-

Sumber : Standar : Spesifikasi Bahan Bangunan Bagian A (Sk SNI-04-1989-F)

 

sumber, sumber foto

Berbagai Macam Alat Angkut

Tulisan berikut ini dibuat ketika saya sedang mencari cara untuk memuat besi plat, besi wire mesh, besi siku, dan lain-lain ke dalam tongkang. Silahkan disimak dan semoga bermanfaat.

  1. Clamshell untuk penggalian material lepas pasir, kerikil, pecahan batu, lumpur, batu bara dan lainnya. Cara kerja clamshell adalah menjatuhkan bucket pada saat kosong dan mengangkatnya saat berisi muatan secara vertical dengan swig seperti pada saat exscavator dan membongkar muatan pada tempat yang dikehenddaki dan swig kembali. Kapasitas bucket diukur dalam 3 macam ukuran yaitu, kapasitas bucket dimana bucket terrendam air, kapasitas backet terisi rataa, dan kapasitaas bucket munjung. Kapasitas bucket ± 1,48 BCY.
  2. Belt Convenyor berfungsi untuk mengangkut bahan-bahan industri yang berbentuk padat. Material padat yang diangkut tergantung kepada kapasitas material yang ditangani, ukuran, bentuk, sifat mateerial, kondisi pengankutan, jarak perpindahan material dan harga peralatan tersebut. Klasifikasi conveyor secara umum adalah belt conveyor, chain conveyor, screw conveyor, dan pneumatic conveyor. Kapasitas yang dapat diangkut menggunakan konveyor sebesar 750 ton/jam, mempunyai panjang 1400 mm dan lebar 600 mm, jarak angkut sekitar 300-400 meter dengan kecepatan 3 meter perdetik.
  3. Chain Convenyor merupakan alat transportasi horizontal untuk jarak angkut panjang. Umumnya chain convenyor digunakan untuk kapasitas yang besar dibandingkan dengan screw convenyor. Kapasitas angkut chain convenyor sampai 200 ton perjam dan jarak angkut sampai 100 meter. Prinsip kerja alat ini adalah sprocket memutar rantai dan menghasilkan gerakan horizontal yang membawa produk secara horizontal.
  4. Screw Convenyor merupakan alat transportasi horizontal tertutup. Alat ini berupa poros yang dikelilingi oleh blade yang membentuk suatu helical spiral dan dipasang pada sebuah casing yang tertutup rapat. Prinsip kerja alat ini adalah mengalirkan produk dengan memutar poros hingga produk akan bergerak secara horizontal. Kecepatan poros dari convenyor adalah 60-130 rpm
  5. Suction tower merupakan alat penghisap gandum dari kapal dan mencurahkan pellet ke palka kapal. Berbentuk menara dengan ketinggian 43 meter dan kapasitas 500 ton perjam.
  6. Hand trolly berfungsi sebagai alat angkut untuk memindahkan bahan yang digerakan dengan cara manual. hand trolly mempunyai kapasitas beban 150 kg, mempunyai dimensi platform 740mm x 480 mm, tinggi platform 140 + 720 mm.
  7. Hand pallet berfungsi sebagai alat angkut untuk memindahkan bahan yang digerakan dengan cara manual. hand pallet mempunyai kapasitas beban 1 ton.
  8. Electric hand pallet berfungsi sebagai alat angkut untuk memindahkan bahan yang digerakan dengan cara manual. electric hand pallet mempunyai kapasitas beban 1 ton.
  9. Hand stacker manual berfungsi sebagai alat angkut untuk memindahkan bahan yang digerakan dengan cara manual. hand stacker manual mempunyai kapasitas beban 1 ton.
  10. Telehenders merupakan alat berat terbaik yang menggabungkan keunggulan pengangkatan dan jangkauan. Kabin yang lapang dan kursi suspensi menjaga kenyamanan sepanjang hari sementara joystick tuas tunggal mengoperasikan semua fungsi boom untuk produktivitas maksimum. Tiga mode pengemudian menawarkan peningkatan kemampuan manuver disegala medan. Keserbagunaan dimaksimalkan dengan Work Tool Cat® untuk menangani berbagai jenis aplikasi. Kapasitas angkut sebesar 3700-4600 kg.
  11. Rotary drills merupakan alat angkut berat yang mempunyai kapasitas angkut sebesar 75000 kg.
  12. Highway dump truck merupakan alat pengangkut pertambangan yang mempunyai kapasitas sebesar 18-170 ton.
  13. Motor grander adalah alat berat yang digunakan untuk meratakan material pada permukaan jalan. Kapasitas yang ada pada motor grander adalah 80 kg.
  14.  Dump Truck Heavy ini merupakan truk dengan total kapasitas mencapai 32m3. Truk ini merupakan salah satu truk yang memiliki kapasitas yang besar dan ditunjang juga dengan spesifikasi bahan yang terbaik yaitu dengan dimensi panjang luar bak sebesar 6,5 m, lebar luar bak sebesar 2,5 m, dan tinggi luar bak 2 meter. Plat dari lantai bak setebal 8 mm dan plat dinding setebal 6mm. dilengkapi dengan sistem hidrolik yang baik sehingga truk ini sangat handal dalam hal pendistribusian barang.
  15. Dump truck ini merupakan truck tanpa pintu belakang, solusi kemudahan dan kecepatan mobilisasi barang tambang yang mengutamakan ritase, cepat bongkar muat barang. Chassis menggunakan Hino FM 260 JD dan Hino FM 320 PD tergantung medan dan area tambang. Hino FM 320 PD yang merupakan generasi mesin PC11 head trailer merupakan tipe baru yang menjawab kebutuhan anda akan truck yang bertonase dan daya mesin besar yang beroperasi di medan dan area tambang yang ekstrim dan berat. Model karoseri Hino dump truck scope end tanpa pintu belakang ini banyak di pakai untuk angkutan dan mobilisasi di tambang nikel dan biji besi. 110 unit telah terjual melalui proyek kami untuk Hino dump truck scope end tanpa pintu.
  16. Pipelayer pada gambar diatas bertipe PL61, merupakan salah satu alat angkut guna mengangkut hasil dari pertambangan dengan menggunakan kail yang digunakan untuk mengankat hasil tambang yang diikat dengan menggunakan besi kemudian dipindahkan ke tempat yang diinginkan. Alat ini mampu menahan beban hingga 18145 kg.
  17. Forwarders merupakan salah satu alat angkut yang digunakan untuk mengangkut hasil dari pemotongan pohon. Alat tersebut dilengkapi dengan capit dan bak penyimpanan batang pohon yang telah ditebang. Alat ini dapat menahan beban mulai dari 13068 kg hingga 20000 kg tergantung tipe dari mesin tersebut.
  18. Material handler merupakan alat angkut yang sering digunakan untuk area pertambangan. Alat angkut tersebut digunakan untuk mengangkut material kemudian dipindahkan ke dalam truk pengankut. Model CAT ACERT dapat menampung beban hingga 44627 kg.
  19. Off higway truck merupakan alat angkut yang sering digunakan untuk area pertambangan. Truck ini didesain senyaman mungkin untuk operator agar mudah mengendalikannya. Truck ini sanggup menahan beban hingga 36,3 ton.
  20. Mining Truck ini memiliki fungsi yang sama dengan off highway truck yaitu dikhususkan untuk transportasi pertambangan. Perbedaannya dengan off highway truck adalah dari segi kapasitas, truck ini minimal menampung beban sebesar 218 ton.
  21. On highway truck merupakan kendaraan guna mengantarkan peralatan tambang ke lokasi-lokasi yang telah ditentukan. Selain itu truk ini juga dapat difungsikan sebagai alat angkut material atau hasil tambang seperti pasir dengan mengkondisikan bagian belakang truk sesuai kebutuhan.
  22. Wheel Loader fungsi utama loader adalah digunakan sebagai pemuat, terutama bahan material ke dalamdump truck. Selain itu, alat ini juga digunakan sebagai stock pile untuk memindahkan material hasil pemecahan dari stone crusher. Ada dua jenis loader, yaitu crawler loader danwheel loader. Crawler loader merupkan jenis loader yang menggunakan ban dari besi (track) yang sangat sesuai digunakan pada daerah dengan kondisi medan berat, dengan permukaan tanah yang tidak rata. Sedangkan Wheel Loader, merupakan jenis loader yang menggunakan ban karet, sehingga memiliki mobilitas yang tinggi. Kapasitas dari wheel loader sebesar 1,8 m³.
  23. Towed Scraper dalam pengoprasiannya ditaaarik oleh bulldozer karena tidak bermesin, tenaganya diambil dari bulldozer. Towed scraper umumnya dditarik traktor dengan kekuatan mesin 300 hp atau lebih. Jenis towed scraper dapat menampung 8-30 m.
  24. Motor Scraper pengoperasiannya ada yang menggunakan mesin tunggal atau front da nada yang menggunakan mesin ganda. Scraper bermesin tunggal harus dibantu dengan pendorong sedangkan yang bermesin ganda tidak harus menggunakan mesin pendorong, jarak angkut motor scraper ini sebesar 500-2000 meter.
  25. Dragline merupakan alat penggali taanah dan dapat sekaligus memuatkan pada alat angkut. Dragline sangat baik dalam menggali parit, sungai yang memiliki tebing yang curam sehingga kendaraan untuk mengangkut hasil galian tidak perlu masuk ke lokasi galian. Kapasitas dragline sebesar 70-80% dari kapasitas shovel atau 2.5 cu-yd.
  26. Forklift disel atau yang juga sering disebut sebagai lift truck adalah salah satu material handling yang paling banyak digunakan di dunia logistic. Tujuan utama dari penggunaan forklift adalah untuk transportasi dan mengangkat. Sejarah forklift pertama kali diawali pada tahun 1906. Pennsylvania Railroad memperkenalkan sebuah batery platform truck untuk memindahkan barang. Perkembangan selanjutnya banyak terjadi pada saat perang dunia I. Konon menurut sejarah, dunia logistik sangat dipengaruhi oleh adanya perang. Forklift modern sekarang sudah berbeda jauh dengan sejarah awal forklift yang ada. Forklift modern benar-benar difokuskan untuk kedua hal utama, yaitu transportasi dan mengangkat. Forklift ini menggunakan mesin diesel sebagai penggeraknya. Secara otomatis, forklift ini berbahan bakar solar dan biasanya memiliki jenis ban yang terbuat dari karet seperti ban kendaraan pada umumnya. Kapasitasnya sebesar 2.5-15 ton.
  27. Forklift elektrik atau yang juga sering disebut sebagai lift truck adalah salah satu material handling yang paling banyak digunakan di dunia logistic. Tujuan utama dari penggunaan forklift adalah untuk transportasi dan mengangkat. Sejarah forklift pertama kali diawali pada tahun 1906. Pennsylvania Railroad memperkenalkan sebuah batery platform truck untuk memindahkan barang. Perkembangan selanjutnya banyak terjadi pada saat perang dunia I. Konon menurut sejarah, dunia logistik sangat dipengaruhi oleh adanya perang. Forklift modern sekarang sudah berbeda jauh dengan sejarah awal forklift yang ada. Forklift modern benar-benar difokuskan untuk kedua hal utama, yaitu transportasi dan mengangkat. Forklif ini menggunakan tenaga batery sebagai sumber energinya dan mempunyai lifetime sehingga diperlukan sebuah alat untuk mer-recharge agar batery dapat berfungsi kembali. Fungsi perawatan ini sangat penting untuk kelangsungan hidup dari sebuah batery. Kapasitasnya sebesar 2.5-15 ton.
  28. Buldoser dapat dibedakan menjadi dua yakni menggunakan roda kelabang (Crawler Tractor Dozer) dan Buldoser yang menggunakan roda karet (Wheel Tractor Dozer), Pada dasarnya Buldoser menggunakan traktor sebagai tempat dudukan penggerak utama, tetapi lazimnya traktor tersebut dilengkapi dengan sudu sehingga dapat berfungsi sebagai Buldoser yang bisa untuk menggusur tanah. Kapasitas buldoser sebesar 1,58 cu-yd.
  29. Crane truck berkisar mengangkat kapasitas dari sekitar 14,5 ton singkat (12,9 ton panjang, 13,2 t) menjadi sekitar 1.300 ton singkat (1.161 ton panjang, 1.179 t).
  30. Terrain crane sebuah mobile crane dengan peralatan yang diperlukan untuk melakukan perjalanan dengan kecepatan di jalan umum, dan di medan kasar di tempat kerja dengan menggunakan all-wheel steering dan kepiting. AT menggabungkan roadability Truck-mount Cranes dan manuver dari Cranes Rough Terrain. AT memiliki 2-9 as dan dirancang untuk mengangkat beban hingga 1.200 ton (1.323 ton singkat, 1.181 ton panjang).
  31. Crawler crane derek yang dipasang pada bagian bawah dengan satu set track (juga disebut crawler) yang memberikan stabilitas dan mobilitas. Crawler crane berkisar mengangkat kapasitas dari 40 sampai 3.500 ton singkat (35,7 sampai 3,125.0 ton panjang, 36,3 sampai 3,175.1 t).
  32. Floating crane yang digunakan terutama dalam membangun jembatan dan konstruksi pelabuhan, tetapi mereka juga digunakan untuk sesekali bongkar muat beban terutama berat atau canggung dan mematikan kapal. Beberapa floating crane yang terpasang pada ponton, lain tongkang derek khusus dengan kapasitas angkat melebihi 10.000 ton singkat (8.929 ton panjang, 9.072 t) dan telah digunakan untuk mengangkut bagian jembatan keseluruhan. Floating crane juga telah digunakan untuk menyelamatkan kapal tenggelam.
  33. Kapal crane sering digunakan dalam konstruksi lepas pantai. Crane bergulir terbesar dapat ditemukan di SSCV Thialf, yang memiliki dua crane dengan kapasitas 7.100 ton (7.826 ton singkat, 6.988 ton panjang) masing-masing. Selama lima puluh tahun, crane tersebut terbesar adalah “Herman Jerman” di Galangan Kapal Angkatan Laut Long Beach, salah satu dari tiga dibangun oleh Hitler Jerman dan ditangkap dalam perang. Derek dijual ke Terusan Panama pada tahun 1996 di mana ia sekarang dikenal sebagai Titan
  34. Hammerhead Derek “martil”, atau kantilever raksasa, crane adalah bangau jib tetap yang terdiri dari sebuah menara baja-braced yang berputar besar, horisontal, kantilever ganda, bagian depan dari kantilever atau jib membawa troli mengangkat, jib adalah diperpanjang mundur dalam rangka untuk membentuk dukungan untuk mesin dan berat menyeimbangkan. Di samping gerakan mengangkat dan bergulir, ada disediakan apa yang disebut “menegangkan” gerak, dimana troli mengangkat, dengan beban ditangguhkan, dapat dipindahkan masuk dan keluar sepanjang jib tanpa mengubah tingkat beban. Gerakan horisontal seperti beban adalah fitur ditandai desain derek nanti. Kapasitasnya mencapai 350 ton.
  35. Side lift Derek sebuah derek sidelifter adalah truk jalan-pergi atau semi-trailer, mampu hoist dan mengangkut kontainer standar ISO. Angkat wadah dilakukan dengan paralel derek seperti kerekan, yang dapat mengangkat kontainer dari tanah atau dari kendaraan kereta api. Kapasitasnya sebesar 5000 ton.
  36. Rought terrain Derek sebuah derek dipasang pada empat undercarriage dengan ban karet yang dirancang untuk pick-and-carry operasi dan untuk off-road dan “kasar medan” aplikasi. Outriggers digunakan untuk tingkat dan menstabilkan derek untuk mengangkat. Ini crane teleskopik yang bermesin tunggal mesin, dengan mesin yang sama memotori undercarriage dan derek, mirip dengan crane crawler. Dalam crane medan kasar, mesin biasanya dipasang di bagian bawah daripada di atas, seperti crawler crane. Kebanyakan memiliki 4 wheel drive dan 4 roda kemudi yang memungkinkan mereka untuk melintasi medan ketat dan jas hujan dari truck crane standar dengan persiapan situs kurang. Kapasitasnya mencapai 3000 ton.
  37. Carry deck crane sebuah deck crane carry adalah 4 kecil roda crane dengan booming 360 derajat berputar ditempatkan tepat di pusat dan taksi operator yang terletak di salah satu ujung bawah booming ini. Bagian belakang rumah mesin dan area di atas roda adalah flat deck. Sangat banyak penemuan Amerika dek Carry dapat mengibarkan beban dalam ruang tertutup dan kemudian memuatnya di ruang dek sekitar taksi atau mesin dan kemudian pindah ke situs lain. Prinsip Deck Carry adalah versi Amerika dari memilih dan membawa derek dan keduanya memungkinkan beban yang akan dipindahkan oleh derek jarak pendek. Kapasitasnya sebesar 1500 ton.
  38.  Telescopic handler crane merupakan handlers Telescopic seperti truk forklift yang memiliki ledakan telescoping diperpanjang seperti crane. Penangan teleskopik awal hanya mengangkat satu arah dan tidak memutar. Namun, beberapa produsen telah merancang penangan teleskopik yang berputar 360 derajat melalui meja putar dan mesin ini terlihat hampir identik dengan Crane Rough Terrain. Ini 360 derajat baru teleskopik handler / crane model memiliki outriggers atau kaki stabilizer yang harus diturunkan sebelum mengangkat, namun desain mereka telah disederhanakan sehingga mereka bisa lebih cepat dikerahkan. Mesin ini sering digunakan untuk menangani palet batu bata dan menginstal gulungan frame pada banyak situs bangunan baru dan mereka telah mengikis banyak pekerjaan untuk kecil crane truk teleskopik. Banyak dari angkatan bersenjata dunia telah membeli penangan teleskopik dan beberapa di antaranya adalah jenis sepenuhnya berputar jauh lebih mahal. Jalan mereka kemampuan dan fleksibilitas situs pada mereka untuk membongkar palet menggunakan garpu, atau mengangkat seperti crane membuat mereka berharga sepotong mesin. Kapasitasnya sebesar 1000 ton.
  39. Rail Derek sebuah derek kereta api telah bergelang roda untuk digunakan pada kereta api. Bentuk paling sederhana adalah bangau dipasang pada sebuah gerobak datar. Perangkat lebih mampu adalah tujuan-dibangun. Berbagai jenis crane yang digunakan untuk pekerjaan pemeliharaan, operasi pemulihan dan pemuatan barang di meter barang dan skrap penanganan fasilitas. Kapasitasnya sebesar 2500 ton.
  40. Aerial Derek udara atau ‘crane Sky’ biasanya helikopter yang dirancang untuk mengangkat beban besar. Helikopter dapat melakukan perjalanan ke dan mengangkat di daerah yang sulit dijangkau oleh crane konvensional. Crane Helikopter yang paling sering digunakan untuk mengangkat unit / beban ke pusat perbelanjaan dan highrises. Mereka bisa mengangkat sesuatu dalam kapasitas angkat mereka, (mobil, perahu, kolam renang, dll). Mereka juga melakukan bantuan bencana setelah bencana alam untuk bersih-bersih, dan selama liar kebakaran mereka mampu membawa ember besar air untuk memadamkan api. Beberapa crane udara, sebagian besar konsep, juga telah menggunakan lebih ringan dari pesawat udara, seperti airships. Kapasitas angkutnya sebesar 2500 ton.

Sumber